Banyak pertanyaan di hari raya yang bertemu jawabannya di bulan Syawal.
"Kapan nikah?"
“Insya Allah bulan Syawal”
Banyak pula yang nggak, bahkan hingga dipertemukan dengan
hari raya berikutnya.
Hingga ada masanya pertanyaan itu terdengar sangat
menyakitkan dan bahkan sebagian membatasi diri dari berinteraksi agar
menghindari pertanyaannya, bukan semata-mata membenci orangnya.
Banyak cara dalam menghadapi masalah, termasuk menghindari
masalah itu sendiri menjadi bagian dari menghadapi masalah, 'bukan lari, ya!'
kata sebagian mereka, ini adalah solusi. Dari pada ruang tamu terasa suram
karena setiap duduk di antara tamu tapi kita menerka-nerka tentang pertanyaan
mereka. OVT membuat kita merasa gak nyaman sama keadaan yang harusnya bahagia.
Akhirnya kita membuat semua catatan penting jauh sebelum 1 Syawal tiba, JANGAN
TANYA INI ITU.
Sehingga, at some point basa-basi itu menjadi begitu
menegangkan. Sebelum ditanya dia sudah memasang barrier dengan hanya
bersalaman. Padahal mungkin bisa jadi dibalik pertanyaan ada doa. Tapi tak
apalah, mungkin bibi, budeh atau om dan
saudara-saudara kita tak sama.
Ada yang memang green flag :
"Kapan nikah?"
"Doain aja secepatnya :)"
"Apapun alasannya, kami doakan secepatnya dan
dipertemukan dengan jodoh yang cocok, yah" ✅
Ada yang memang red flag :
"Kapan nikah?"
"...." Belum sempat jawab.
"Kamu itu nunda terus udah umurnya lho, lihat tuh anak
Tante blablabla..."🟥
Dari case kedua tersebut boleh jadi ada dalam lingkaran
keluarga kita. Tapi siapa yang tahu kalau tidak dicoba hadapi dulu
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jadi kita bisa memfilter anggota keluarga mana
yang greed or red.
Jangan sampai posisinya jadi kita yang green or red. Be like
jawaban kita yang nyeleneh atau malah memposisikan kita seolah "wajar aja
gada yang mau, orang red flag gini."
Jawaban greed flag:
"Iyah Tante, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari
akunya. Soalnya sama yang kemarin cukup bermasalah hubungannya"
.. "Tante doain semoga dapet jalan terbaik. Ponakan Tante baik gini di sia-siain pasti dia yang bakalan nyesel seumur hidup. Tante jamin!"
✅ Jawaban green flag gini bikin Kamu dapet doa sekaligus dapet sumpahan buat lelaki yang nyia-nyoain Kamu. Bayangin kalau seluruh keluarga besar Kamu nyumpahin dan doain yang jelek-jelek buat tuh cowok.💥
Jawaban red flag:
"Kapan nikah?"
“Lho, memang mau modalin. Tanya terus!”, “Biarin aku belum
nikah, dari pada tante nikah tapi rumah tangga berantakan!” dan sebagainya.
✅ For me, Jawaban red flag yang
keluar dari dirimu ini yang akan menjauhkanmu dari ucapan baik atau doa baik.
💥 Jadi perlu berhati-hati, ini bukan cuma perkara tekanan dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ini soal memposisikan diri sebagai pemenang dengan
cara pasang badan dengan menghadapi mereka lalu beri jawaban yang elegan.
Tinggal kita mau berperan sebagai siapa? Si baik atau si
jahat.
Saya coba refleksi diri dengan berperan sebagai wanita.
Karena pada kenyataannya stereotype di masyarakat terkait pernikahan khususnya
wanita ini memiliki deadline, seolah ada batasan waktu bagi mereka untuk menikah
jika melewati batasan itu maka habis lah sudah harapannya.
Bisa, “Ya” bisa “tidak”.
Karena Saya sendiri dihadapkan dengan sebuah keajaiban
pernikahan bisa dibilang begitu. Seorang wanita 34 tahun dan pria 36 tahun
dipertemukan dalam sebuah jawaban dari doa-doanya. Tokoh utama Wanita ini
memiliki teman wanita juga, singkatnya bisa dikatakan tokoh utama wanita kita
berjasa memberi hidayah sampai dia menjadikan temannya ini mualaf. Komunikasi
mereka baik hingga waktu berlalu cukup lama, si wanita mualaf ini notice kalau
temannya ini (tokoh utama) belum menikah.
Tanpa sengaja dia menemukan kenalan seorang pria matang.
Singkatnya si wanita mualaf ini di mimpikan untuk mempertemukan tokoh utama
dengan pria ini. Disampaikanlah apa yang dia alami.
Tapi seperti wanita yang ‘telat’ pada umumnya. Merasa hal
ini akan sia-sia. Sementara temannya mualaf ini mencoba mengerti tentang
kekhawatirannya dan tidak memaksanya berlebih. Akan tetapi mimpi itu datang
lagi, bahwa perkenalan itu terjadi lagi dalam mimpinya.
Diceritakan lagi, lah kepadanya. Di titik ini tokoh utama
wanita kita mencoba berdamai dengan kekhawatirannya dan menjawab ajakan
temannya yang mualaf ini untuk berkenalan dengan si pria. Singkat cerita mereka
akhirnya cocok dan menikah.
Artinya dalam kehidupan ini tidak ada yang namanya terlambat
selama masing-masing kita tidak menutup diri kita dari berharap dan berkeyakinan
bahwa harapan itu akan Allah jawab.
Saya yakin keajaiban-keajaiban seperti ini sering terjadi
tanpa kita sadari. Jadi kekhawatiran apa yang sedang kamu alami di bulan syawal
ini?
Apakah kekhawatiran pertanyaan-pertanyaan pedas itu?
“Kapan nikah?”
Ataukah kamu tidak takut dalam menjawab itu tapi kamu khawatir
tidak menemukan jawaban dalam bentuk nyata?
“Siapa yang harus aku nikahi?!”
Kenapa takut...
Bukankah kamu punya Allah yang mampu menciptakan Adam dari
tanah?
Bukankah kamu punya Allah yang menciptakan pasangan bagi
Adam dari bagian diri Adam?
Kenapa takut...
Bukankah kamu tahu Allah mampu menidurkan Ashabul Kahfi ratusan
tahun?
Bukankah kamu tahu Allah mampu membuat Mariyam mengandung Isa
tanpa ayah?
Kenapa takut...
Allah kan bilang,
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ٤
Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu
mengingat (kebesaran Allah). Adz-Dzariyat · Ayat 49
Kenapa takut?
Kalau di hadapan manusia kamu gak bisa cerita panjang lebar
tentang apa yang kamu alami. Bukankah kamu punya Allah?
Kamu bisa menangis lama tanpa dipandang iba.
Kamu bisa bercerita tanpa dipotong.
Kamu bisa mengeluh tanpa dihakimi.
Kamu bisa berharap tanpa ditertawakan.
Allah gak pernah tutup mata, Allah gak pernah tutup telinga.
Kadang manusia hanya melihat hasil, tapi Allah melihat proses, air mata, doa
yang kamu sembunyikan, dan sabar yang kamu tahan setiap hari.
Lebaran ini mungkin kamu gak atau belum menemukan jawaban.
Kamu juga mungkin belum punya pasangan sebagai tujuan.
Tapi setidaknya kamu masih punya hubungan baik sama Allah.
Biar Allah yang rangkai cerita-cerita baik buat kamu.

0 komentar:
Posting Komentar