Selasa, 28 Januari 2020

Awal Mula Kesesatan


Sunda Empire yang baru-baru ini ramai dibicarakan tengah ditangani oleh pihak berwajib. Kabarnya Polda Jabar berhasil menyelesaikan kasus tersebut. Dengan jeratan pasal 14 dan atau 15 UU RI nomor 1 Tahun 1946 dengan ancama 10 tahun penjara. Dengan tuduhan telah membohongi public dan membuat keresahan. Berita selengkapnya [1]

Pasti diantara kita berfikir bahwa, "Jelas-jelas halu kok masih aja ada yang percaya dan mengikuti kelompok tersebut?". Jika kita kaji dalam pandangan keagamaan, hal serupa sering terjadi pada ajaran Agama Islam. Pelakunya adalah Ahlul Hawa (pengikut hawa nafsu) atau Ahlul Bid'ah yang suka membuat-buat ajaran baru diagama ini. Bagi sebagian umat muslim yang beriman tentu akan berfikir tentang golongan-golongan yang ada pada umat ini.

Mengapa kita bergolong?
Golongan mana yang paling benar?
Bagaimana menghindari golongan yang sesat?

Jujur sebenarnya hal ini akan sangat panjang mengingat banyak poin-poin yang perlu kita rincikan satu-persatu. Sebelumnya kita bahas dulu dari hal yang utama.

Kesesatan

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingati untuk membentengi diri kita dari kesesatan. Pada dasarnya kesesatan adalah hal yang Iblis janjikan menimpa semua umat beriman. Sebagaimana yang terjadi ketika Iblis yang tidak mau menuruti perintah Allah untuk menyembah Nabi Adam Allaihissalam, kemudian Allah menghukumnya. Hukuman yang Iblis terima adalah selain terusir dari surga dia pun Allah janjikan akan mendapatkan siksa api neraka dan akan hidup selamanya disana. Sementara Iblis yang terkenal pembangkang pun meminta satu hal kepada Allah Ta’ala. Iblis meminta untuk Allah tangguhkan hidupnya sehingga dia bisa menyesatkan umat manusia yang ada hingga hari kiamat. Kisah ini tercatan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf ayat 11-17.

Perlu diketahui untuk kita bahwa terdapat sifat Iblis pada manusia yang apabila kita telah bersalah kemudian kita menggunakan kesalahan tersebut sebagai pembenaran. Contoh pada perkataan Iblis di ayat tersebut, “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, Aku akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.”

Perhatikanlah perkataan Iblis untuk membantah Allah Ta’ala. Kutipan pertama bahwa Iblis menggunakan kesalahannya sebagai bentuk apa yang Allah takdirkan, padahal kesalahan adalah sepenuhnya tanggung jawab diri kita sendiri. Kutipan kedua, bahwa Iblis mengancam Allah sebagai bentuk kesombongan dan ketidak terimaan dia atas hikuman yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan.

Jujur saja pada diri sendiri, hal terssebut pernah kita alami. Ketika kita merasa berdosa, bukannya memohon ampunan kepada Allah justru hal sebaliknya yang kita lakukan. Yakni meniru sifat Iblis seraya berkata, “Aku sudah berdosa jadi biarkan aku berdosa. Toh aku sendiri yang menerima hukumannya.” Meski tak sama tapi serupa. Wal’iyadzubillah

Hal ini terjadi katena Iblis telah berhasil menjalankan misinya untuk menyesatkan kita. Dalam pembahasan ayat tersebut sebetulnya ada kutipan hadits jika kita pelajari kitab tafsirnya. Untuk meminimalisir pembahasan, kalian bisa menyimaknya dalam tafsir singkat yang kami kutip pada laman web. Tafsir singkat ; Sumpah Iblis untuk menyesatkan manusia [2]

Intinya adalah bahwa kesesatan berasal dari jalan-jalan setan. Maka adapun Allah sebagai pencipta umat manusia telah memerintahkan kita untuk membentengi diri kita dari kesesatan.

Mungkin kita abai atau kita memang tidak tahu menahu soal ini. Baiklah, sekarang kita akan tahu bahwa Allah telah memberikan langkah utama dalam membentengi diri kita dari kesesatan. Yakni dengan Solat. Seperti apa yang Allah firmankan dalam Alquran Surat Al-Ankabut : 45. Tapi yang mau kami beritakan adalah tentang apa yang terdapat pada Solat tersebut. 

Diantara syarat sahnya solat adalah membaca Alfatihah. Hal ini yang sering luput dari perhatian kita. Ada makna yang luar biasa pada bacaan Alfatihah tersebut. Jika dari awal kita menyebut keagungan Allah lalu di akhir surat kita meminta petunjuk yang lurus agar tidak tersesat. Inilah point terpenting dalam solat.

Sesesat apapun suatu golongan, pasti akan ada pengikutnya.

Perkataan itu perlu sungguh-sungguh kita waspadai, karena memang itulah yang nyata terjadi. Oleh karena itu, untuk membentengi diri kita agar tidak tersesat. Allah menyematkan bacaan Alfatihah di ibadah manusia yang agung yaitu solat. Karena itu sebagai umat islam yang taat, kita seharusnya perlu mengilmui atau mendalami tentang makna Alfatihah. Agar pada saat solat kita mampu benar-benar yakin dan berharap Allah mengabulkan permohonan kita untuk berada terus di jalan yang lurus dan selamat. Aamiin

Sedikit yang ingin kami kutip tentang hal tersebut. Yaitu pada Surat Alhatihah Ayat 6 yang berbunyi

  
Kita merujuk pada Tafsir Ibn Katsir :

Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diikuti dengan permintaan setelahnya. Sebagaimana firman-Nya, “Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Ulasan hadits [3]

Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna bagi seseorang yang mengajukan permintaan. Karena pertama ia memuji Rabb yang akan ia minta dan kemudian memohon keperluannya sendiri dan keperluan saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang beriman, melalui ucapannya, “Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus.”

Dari kutipan Kitab Tafsir tersebut, kita jadi tahu bahwa apa yang seharusnya dihadirkan dalam hati kita pada saat membaca surat Alfatihah ketika mendirikan solat. Yaitu memuji keagungan Allah dan menghadirkan niat untuk sungguh-sungguh memohon bagi diri sendiri dan saudara seiman agar diberikan petunjuk jalan yang lurus.

Oleh karena itu pulalah mengapa solat berjamaah bagi kaum lelaki sangat dianjurkan. Karena hadirnya niat saat bacaan tersebut akan sangat mudah terasa, sebab kita ada pada barisan saf solat secara bersamaan dan meng-Amini doa meminta petunjuk tersebut secara bersama-sama.
Semoga kita terhindar dari kesesatan dan jeratan-jeratan yang dibuat oleh Iblis.


Insya Allah pada tulisan lain, kita akan membahas tentang poin-poin lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar