Sunda Empire yang baru-baru
ini ramai dibicarakan tengah ditangani oleh pihak berwajib. Kabarnya Polda
Jabar berhasil menyelesaikan kasus tersebut. Dengan jeratan pasal 14 dan atau
15 UU RI nomor 1 Tahun 1946 dengan ancama 10 tahun penjara. Dengan
tuduhan telah membohongi public dan membuat keresahan. Berita
selengkapnya [1]
Pasti diantara kita berfikir bahwa, "Jelas-jelas halu kok masih aja ada yang percaya dan mengikuti kelompok tersebut?". Jika kita kaji dalam pandangan
keagamaan, hal serupa sering terjadi pada ajaran Agama Islam. Pelakunya adalah Ahlul Hawa (pengikut
hawa nafsu) atau Ahlul Bid'ah yang suka membuat-buat ajaran baru diagama ini.
Bagi sebagian umat muslim yang beriman tentu akan berfikir tentang golongan-golongan
yang ada pada umat ini.
Mengapa kita bergolong?
Golongan mana yang paling benar?
Bagaimana menghindari golongan
yang sesat?
Jujur sebenarnya hal ini akan
sangat panjang mengingat banyak poin-poin yang perlu kita rincikan
satu-persatu. Sebelumnya kita bahas dulu dari hal yang utama.
Kesesatan
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah memperingati untuk membentengi diri kita dari kesesatan. Pada dasarnya
kesesatan adalah hal yang Iblis janjikan menimpa semua umat beriman. Sebagaimana
yang terjadi ketika Iblis yang tidak mau menuruti perintah Allah untuk
menyembah Nabi Adam Allaihissalam, kemudian Allah menghukumnya. Hukuman yang
Iblis terima adalah selain terusir dari surga dia pun Allah janjikan akan
mendapatkan siksa api neraka dan akan hidup selamanya disana. Sementara Iblis
yang terkenal pembangkang pun meminta satu hal kepada Allah Ta’ala. Iblis
meminta untuk Allah tangguhkan hidupnya sehingga dia bisa menyesatkan umat
manusia yang ada hingga hari kiamat. Kisah ini tercatan dalam Al-Qur’an surat
Al-Araf ayat 11-17.
Perlu diketahui untuk kita bahwa
terdapat sifat Iblis pada manusia yang apabila kita telah bersalah kemudian
kita menggunakan kesalahan tersebut sebagai pembenaran. Contoh pada perkataan
Iblis di ayat tersebut, “Karena Engkau
telah menghukumku tersesat, Aku akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu
yang lurus.”
Perhatikanlah perkataan Iblis untuk
membantah Allah Ta’ala. Kutipan pertama bahwa Iblis menggunakan kesalahannya
sebagai bentuk apa yang Allah takdirkan, padahal kesalahan adalah sepenuhnya tanggung
jawab diri kita sendiri. Kutipan kedua, bahwa Iblis mengancam Allah sebagai
bentuk kesombongan dan ketidak terimaan dia atas hikuman yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan.
Jujur saja pada diri sendiri, hal terssebut
pernah kita alami. Ketika kita merasa berdosa, bukannya memohon ampunan kepada
Allah justru hal sebaliknya yang kita lakukan. Yakni meniru sifat Iblis seraya
berkata, “Aku sudah berdosa jadi biarkan
aku berdosa. Toh aku sendiri yang menerima hukumannya.” Meski tak sama tapi
serupa. Wal’iyadzubillah
Hal ini terjadi katena Iblis telah
berhasil menjalankan misinya untuk menyesatkan kita. Dalam pembahasan ayat
tersebut sebetulnya ada kutipan hadits jika kita pelajari kitab tafsirnya. Untuk
meminimalisir pembahasan, kalian bisa menyimaknya dalam tafsir singkat yang
kami kutip pada laman web. Tafsir singkat ; Sumpah Iblis untuk menyesatkan manusia [2]
Intinya adalah bahwa kesesatan
berasal dari jalan-jalan setan. Maka adapun Allah sebagai pencipta umat manusia
telah memerintahkan kita untuk membentengi diri kita dari kesesatan.
Mungkin kita abai atau kita memang
tidak tahu menahu soal ini. Baiklah, sekarang kita akan tahu bahwa Allah telah
memberikan langkah utama dalam membentengi diri kita dari kesesatan. Yakni dengan
Solat. Seperti apa yang Allah firmankan dalam Alquran Surat Al-Ankabut : 45.
Tapi yang mau kami beritakan adalah tentang apa yang terdapat pada Solat
tersebut.
Diantara syarat sahnya solat adalah membaca Alfatihah. Hal ini yang sering
luput dari perhatian kita. Ada makna yang luar biasa pada bacaan Alfatihah tersebut. Jika
dari awal kita menyebut keagungan Allah lalu di akhir surat kita meminta
petunjuk yang lurus agar tidak tersesat. Inilah point terpenting dalam solat.
Sesesat apapun suatu golongan,
pasti akan ada pengikutnya.
Perkataan itu perlu sungguh-sungguh
kita waspadai, karena memang itulah yang nyata terjadi. Oleh karena itu, untuk
membentengi diri kita agar tidak tersesat. Allah menyematkan bacaan Alfatihah
di ibadah manusia yang agung yaitu solat. Karena itu sebagai umat islam yang
taat, kita seharusnya perlu mengilmui atau mendalami tentang makna Alfatihah. Agar
pada saat solat kita mampu benar-benar yakin dan berharap Allah mengabulkan
permohonan kita untuk berada terus di jalan yang lurus dan selamat. Aamiin
Sedikit yang ingin kami kutip
tentang hal tersebut. Yaitu pada Surat Alhatihah Ayat 6 yang berbunyi
Kita merujuk pada Tafsir Ibn Katsir
:
Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diikuti
dengan permintaan setelahnya. Sebagaimana firman-Nya, “Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi
hamba-Ku apa yang ia minta.” Ulasan hadits [3]
Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna
bagi seseorang yang mengajukan permintaan. Karena pertama ia memuji Rabb yang
akan ia minta dan kemudian memohon keperluannya sendiri dan keperluan
saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang beriman, melalui ucapannya, “Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus.”
Dari kutipan Kitab Tafsir tersebut,
kita jadi tahu bahwa apa yang seharusnya dihadirkan dalam hati kita pada saat
membaca surat Alfatihah ketika mendirikan solat. Yaitu memuji keagungan Allah
dan menghadirkan niat untuk sungguh-sungguh memohon bagi diri sendiri dan
saudara seiman agar diberikan petunjuk jalan yang lurus.
Oleh karena itu pulalah mengapa
solat berjamaah bagi kaum lelaki sangat dianjurkan. Karena hadirnya niat saat
bacaan tersebut akan sangat mudah terasa, sebab kita ada pada barisan saf solat
secara bersamaan dan meng-Amini doa meminta petunjuk tersebut secara bersama-sama.
Semoga kita terhindar dari kesesatan
dan jeratan-jeratan yang dibuat oleh Iblis.
Insya Allah pada tulisan lain, kita
akan membahas tentang poin-poin lainnya.


0 komentar:
Posting Komentar