Mari kita berhitung perihal biaya hidup kita setelah lepas dari tanggung jawab orang tua.
Dimulai dari biaya pendidikan lanjutan walau terkadang masih jadi tanggungan orang tua. Tapi agaknya kita perlu tahu juga rinciannya. Sekitar 20jt-200jt itu adalah biaya kuliah yang bahkan bisa lebih sesuai instansi tempat kalian belajar. Kemudian setelah lulus tentu kita mencari pekerjaan atau penghasilan, bisa jadi karyawan atau pebisnis. Setelah itu menikah yang kisaran biayanya adalah 50-200jt sesuai kemevahan yang kalian diskusikan dengan pasangan. Setelah menikah tentunya kalian berharap punya hunian berupa rumah pribadi, yakan? kalian perlu menyiapkan dana sebesar 300-1M tergantung kemevahan yang kalian harapkan.
Aduh kelewat,
Belum lagi jika kalian bercita-cita memiliki kendaraan roda empat. Bisa dibayangkan harganya itu kisaran 200jt lebih. Terus apa lagi? Biaya umroh dan naik haji. Pasti kalian bercita-cita gak sendirikan? Kalian ingin membawa serta Ayah Ibu juga istri. Nah hitung sendiri saja nominal yang perlu kalian butuhkan.
Masyaa Allah, kelewat lagi. Belum biaya kebutuhan harian juga belum biaya tabungan anak sekolah. Ya Robb, beban hidup ini udah harus kami pikirkan sejak kami lulus SMA.
Kemudian aku yang menulis rincian ini dibombardir oleh pembaca. Sebenernya ini ngarang aja biar lebih dramatis. Pembacaku gak ada yang se-interaktip itu wkwk
Jadi mereka berkata, "Iya kalau dihitung bener juga, yah. Hyung. Ternyata biaya hidup kita sebanyak itu, loh. Tapi kenapa selama ini kebanyakan kita bisa aja memiliki itu semua?"
Okay, seru nih pertanyaan.
Perlu kita ketahui bahwa apa yang telah aku ungkapkan di atas adalah hitungan manusia. Hitungan aku.
Sejatinya Allah tidak pernah menghitung-hitung nikmat-Nya. Dia menghendaki setiap apapun yang ingin Allah kehendaki. Hafal kan kalimatnya? "Kun fayaakun." Begitulah Allah terhadap setiap hamba-Nya.
Memang jika kita hitung secara rinci semua biaya itu. Aku rasa setiap mahluk bila sejak lahir mereka sudah dapat rincian biaya hidup seperti itu ada kemungkinan kita semua tidak bisa melewati hidup ini dengan tenang. Tapi luasnya karunia Allah terhadap kita itu tidak terbatas. Inilah diantara sifat-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kaya lagi Maha luas karunia-Nya. Seperti dalam firman-Nya dalam Alquran surah Ibrahim ayat 34.
"Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh manusia itu sangat dzalim dan sangat menginkari (nikmat Allah)"
Allah menegaskan bahwa apa bila kita menghitung nikmat dari-Nya kita tidak akan bisa menghitung-hitung nikmat tersebut. Lets say, berapa banyak dalam sehari semalam kita bernafas? dikalikan dengan berapa usia kita sekarang. Berapa liter nasi yang masuk ke kerongkongan kita? dikalikan dengan usia kita sekarang. Berapa banyak? sudah kah kita dapatkan jumblahnya.
Okay hitungan itu terlalu sulit.
Bagaimana dengan hitungan berupa uang.Tekadang kita merasa sempit dan tertekan, ternyata perasaan itu sebelumnya kita buat-buat sendiri. Sebab Allah mengetahui bahwa apa yang kita perlukan itu adalah hal yang cukup jika tidak ada cicilan.
Baik, "Bagaimana para fakir miskin?"
Terlepas dari ibadah dan rasa syukur mereka. Terlepas dari apakah mereka mengingat Allah sebagai pemberi rizky atau malah lebih sering mengutuk-Nya. Terlepas mereka mengambil cara halal untuk membelanjakan uang yang Allah beri atau terlepas dari cara mereka mendapatkannya.
Para fakir miskin adalah pelajaran bagi kita yang berkecukupan hidupnya. Sebab Allah menginginkan keseimbangan didalam tatanan kehidupan ini. Bagaimana jika Allah buat kaya raya semua manusia? Adakah kalian menjamin bahwa mereka akan bergantung kepada Allah dan bersyukur. Cek ayat barusan, kebanyakan manusia lupa bersyukur. Itu sifat kita. Lalu bagaimana jika kita berada dalam kegemilangan harta? adakah yang mau menjamin kita akan berdoa, meminta, menangis dan merengek diberi oleh Allah? Ada yang mau menjamin?!
Bukankah Allah maha mengetahui apa yang kita butuhkan? Sebab itulah Allah tidak ingin kita tersesat jauh melupakan-Nya. Sebab sekaya dan semiskin apapun kita. Di hadapan-Nya kita adalah seorang hamba. Allah tidak memerlukan doa kita, tidak, sebab kitalah yang membutuhkan-Nya.
"Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya, (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji" Alquran surah Fatir ayat 15.
Allah selalu mengetahui apa yang terbaik buat kita. Pun Allah tahu bahwa kita membutuhkan yang terbaik. Oleh karena itu hal yang baik Allah jadikan banyak dan berlimpah sementara yang buruk Allah ciptakan atau takdirkan sedikit.
Berapa banyak manusia yang membutuhkan kakinya dibanding kendaraan roda empat. Oleh karena itu Allah memberikan kalian kaki tapi sangat sedikit sekali Allah takdirkan kita diberi keluasan rejeki untuk memiliki mobil. Sebab kaki lebih kita butuhkan, bukan?
Berapa banyak Allah ciptakan Oksigen yang tiada habisnya kita hirup dibandingkan orang-orang yang Allah beri keluasan rizki mereka memiliki AC di kamarnya. Bukankah oksigen yang lebih kita butuhkan dari pada sekedar AC. Oleh karena itu Oksigen Allah geratiskan sementara AC Allah ciptakan berbayar sebab itu bukan merupakan kebutuhan, bisa kita ganti dengan kipas angin.
Kemudian dari hal paling kecil yang sering terabaikan.
Berapa banyak Allah ciptakan garam. Bagaimana kalau kita berfikir sejenak?
Jika lidah kita tidak bisa merasakan garam sementara kamu bisa tinggal didalam rumah mevah. Permisalan ini memang bukan Aple to Aple. Tapi bayangkan saja dulu kalian bisa tinggal di rumah mewah tapi lidah kalian hambar tidak bisa merasakan gurihnya garam?
Okay, mungkin kalian akan beralasan, "Gak bisa makan garem kan bisa makan A B C dan D". tapi tidak denganku. Jawabannya mudah, Allah menciptakan partikel kecil itu memiliki tujuan jika kalian mau menelitinya, silahkan. Tetapi untuk garam sendiri. Kalian akan kekurangan kandungan yodium yang dimana hal itu memicu kecerdasan otak dan tubuh. Bagaimana jika kalian tidak merasakan garam? Bagaimana perkembangan kecerdasan dan tumbuh kembang kalian.
Pertanyaanya, Berapa dari kita bersyukur atas garam? :)
Kita kembali lagi yuk ke hitungah uang di awal.
Intinya bahwa hitungan itu tidaklah mesti kita pikirkan begitu mendalam. Sebab jika Allah menakdirkan kita memiliki itu semua maka kita pun akan mencapainya. Dengan perkiraan atau dari hal yang tidak kita kira-kira datangnya. Semua itu akan terjadi jika Allah menghendaki. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki maka serapih apapun rincian yang kita buat dan kita tabung maka akan percuma. Bisa terpakai karena ada musibah atau hal yang tidak pernah terduga terjadi menimpa kita.
Tapi sebagai manusia, membuat plan seperti itu tidak mengapa sebab itu bagian kita dari berusaha. Yang jadi catatanku saat ini adalah apakah kita sudah cukup banyak bersyukur atas apa yang telah kita miliki?
Pembahasan kita kali ini kututup dengan sebuah hadits.
Alangkah celakanya mereka yang Allah berikan kekayaan lebih tetapi merasa sempit. Sebab diantara mereka sesungguhnya tidak mengetahui bahwa kekayaan yang hakiki adalah letaknya di hati.
Seperti kebanyakan kita yang hanya Allah cukupkan dengan sedikitnya harta akan tetapi kesehariannya selalu merasa bahagia. Mereka itu adalah orang-orang beruntung yang selalu merasa cukup atas apa yang Allah berikan kepadanya.
Sebab kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan sebagaimana yang Rosulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sabdakan,
"Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan sejati ialah kekayaan hati" (HR.Bukhari Muslim) Ulasan hadits.

0 komentar:
Posting Komentar