Terkadang dalam beragama ada hal-hal yang tidak sengaja terpikirkan begitu saja oleh kita dan menimbulkan sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi syubhat (sesuatu yang samar-samar jawabannya) di dada manusia.
Tentunya hal itu gak bisa di sia-siakan begitu oleh syaitan. Tindakan yang diambil oleh mereka adalah membisikan was was pada diri mereka yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tersebut.
ALhasil beberapa di antaranya berhasil mereka sesatkan dan diantara lainnya masih dalam keadaan keraguan. Kecuali mereka yang Allah beri taufiq dan hidayah sehingga mau mencari tahu dengan menuntut ilmu dan menemukan majlis ilmu yang benar.
Seperti pertanyaan atau pernyataan saudara kita ini,
Allah memerintahkan kita melakukan segala perintah menjauhi larangan-Nya. Kalau gak mau maka kita akan masuk neraka.
Lah emang siapa yang minta dilahirkan ke dunia.
Lantas jawabannya apa?
Mungkin ini sangat membingungkan jika kita belum pernah sama sekali mendengar jawabannya. Karena sebenarnya hal ini diajarkan sedari kecil saat kita mengaji ke langgar. Tapi seperti pada umumnya anak-anak kita hanya sibuk bermain dan setelah dewasa jadi lupa.
Kemudian pertanyaan ini timbul lagi di kemudian hari. Karena kita lupa, itu juga menjadi masalah bagi kita.
Kita samakan persepsi dulu bahwa Allah telah membuat sebuah penyelesaian dalam agama ini secara menyeluruh. Tidak ada yang terlewat sedikitpun.
Iya persepsi kita sama maka kita akan lanjut bahas.
Pun perkara yang sedang dipertanyakan ini.
Di hari kiamat nanti ada hari persaksian. Kita akan dimintai keterangan atas segala sesuatu yang telah kita perbuat. Jika ada seseorang yang berkata,
"Kamu memerintahkan aku dan aku berdosa. Sementara aku tidak pernah minta dilahirkan ke dunia?!"
Allah Yang Maha Adil memiliki bantahan atas itu...
Sebelum kami meniupkan ruh kami memiliki perjanjian dengan kalian. Allah menggambarkan itu semua dalam Firman-Nya
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
172. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Lantas mengapa setelah lahir dan dewasa kita gak tahu apa-apa?
childhood amnesia
Amnesia anak-anak atau hilangnya memori pada masa anak-anak. Hal ini cenderung membuat orang dewasa seperti kita kesulitan dan bahkan sama sekali gak tergambar tentang masa kecil, range nya di bawah usia 5 tahun, artinya setelah 4 tahun seolah seluruh ingatan kita tidak dapat kita review lagi.
Gak usah terlalu jauh mengingat hal-hal yang terjadi di usia 5 tahun kebawah. Kita coba saja mengingat masa-masa SD-SMP atau SMA secara spesific kita gak bisa mengingat kejadian-kejadian sepele. Hal yang mudah kita ingat adalah hal-hal yang begitu emosional, entah begitu menyenangkan atau begitu menyakitkan, Entah begitu memalukan atau membanggakan. Sisanya kosong, sulit untuk kita mengingatnya, bukan?
Ini menjadi bukti bahwa keadaan ruh kita saat melakukan perjanjian dengan Allah saat dalam kandungan mamak kita itu benar terjadi sesuai Firman Allah Ta'ala dalam surah Al-A’raf ayat 172, dan Al-Hadid ayat 8 sedangkan kita saat ini kita lupa.
Kalau semua ruh kita waktu janin sudah memiliki perjanjian. Harusnya semua umat manusia beriman dong?
Benar sekali, Ini semakin membuktikan keNabian Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam. Sebab Rasulullah pernah bersabda tentang ini dan menjelaskan perkara yang kita pertanyakan tersebut.
Kalau semua ruh kita sejak janin telah berjanji akan beriman kepada Allah harusnya secara otomatis semua manusia beriman dan berislam.
Tapi nyatanya tidak, kenapa?
Sebab yang pertama itu karena fase amnesia tersebut dan yang kedua adalah didikan atau ilmu yang sampai kepada mereka. Dan ilmu juga didikan yang pertama kali mereka dapatkan adalah dari orang tua mereka.
simak Sabda Rasulullah berikut,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam fitrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]
Baru tersadar ketika kajian ilmiah dilakukan tentang amnesia pada bayi dan perjanjian ruh dengan Allah. Maka jelas sudah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam ini,
Bahwa setiap bayi memiliki keimanan atas dasar perjanjian dan persaksiannya. Tapi karena proses yang terjadi pada data otaknya secara akal dia tidak dapat mengingat tapi secara fitrah dia dapat mengakui ke-Esa-an Allah pada dirinya.
Tapi balik lagi,
Yang menjadikan mereka itu beriman dan berislam adalah lingkungan dan orang tua mereka sendiri. Selebihnya setelah mereka dewasa dan berakal mereka dapat menentukan pilihan mereka sendiri.
Apa hikmah dibalik perjanjian ruh dan bayi yang lupa.
Itu semua merupakan keadilan dari ALlah yang Maha adil. Sebab jika seorang bayi sudah menyadari keislamannya maka sedari bayi kita sudah dikenai syariat. Harus ini dan harus itu.
Oleh karena itu seorang bayi sampai anak-anak hingga usia baligh dia tidak dikenakan syariat. Tapi orang tuanyalah yang wajib mendidiknya. Lalu ketika dia baligh dan berakal itulah saatnya dia wajib menjalankan syariat.
Semua ini berkaitan dengan ilmu yang dia dapatkan. Maka semua akan selaras dengan keadilan Allah. Meskipun bayi mengalami lupa tapi bayi tidak dikenai dosa hingga dia baligh. Sebab yang menjadi kewajibannya saat itu adalah menuntut ilmu agar dia kembali mengingat atas persaksiannya dengan Allah sewaktu di alam ruh saat dia menjadi janin.
Lah terus gimana keadilan buat yang Nonis? Kan dia gak bisa milih orang tua dan lingkungan.
Kembali kepada keadilan Allah. Jika seorang bayi yang terdidik dalam didikan islam hingga baligh saja tidak dihitung dosanya. Maka seorang Nonis pun sama, ketika dia kembali bersyahadat bukankah semua Allah kembalikan suci, Allah hapuskan seluruh dosanya sebelum dia islam?
Maka apa bedanya dengan seorang anak yang belum baligh. Sama-sama tidak dihitung sampai dia mendapatkan ilmu keislaman dan kembali kepada fitrah perjanjiannya?
Penutup,
Maka sebenarnya apa yang kita pertanyakan itu semua sudah memiliki jawabannya. Karena tidak mungkin Allah membiarkan kita diambang kebingungan atas segala hal yang Allah berlakukan untuk kita.
Wallahu'alam

0 komentar:
Posting Komentar