Rabu, 13 November 2024

PROSESI TERUSIRNYA MANUSIA DARI SURGA

 Ketika wanita pertama kali diberi kesempatan untuk membuat keputusan, disaat itu manusia terusir dari surga.

Saya sempat membaca kutipan ini pada sebuah postingan yang melintas di beranda sosial media. Kalimat singkat yang syarat akan makna ini membuat saya berpikir sejenak sebelum kemudian tertawa kecil setelah mengetahui maksud tersiratnya.  

Setelah beberapa hari kemudian kata-kata tersebut terbesit kembali dalam lamunan. Kemudian menimbulkan sebuah pemikiran yang cukup mendalam, sampai-sampai saya harus membuat tulisan ini. Beberapa diantaranya adalah,

Mengapa wanita?

Sesuai permisalan dalam agama wanita merupakan makhluk yang ‘bengkok’ dan selama-lamanya akan seperti itu. Ini bagian dari fitrahnya atau bisa dibilang ‘setelan pabriknya’ sudah demikian. Jadi setiap apapun keputusannya, langkahnya dan termasuk dirinya sendiri pun adalah sesuatu yang perlu koreksi atau pendampingan.

Kita ambil saja contoh wanita dalam berkendara. Sejauh apapun jam terbangnya dalam berkendara, terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa dia tutupi dari dirinya sebagai wanita. Di antaranya adalah pengambilan keputusan, terkadang terlalu tergesa-gesa atau terkadang terlalu lambat perhitungannya. Terlalu lambat, tidak jarang kita melihat wanita yang ingin menyalip mobil tapi kecepatannya dibawah 50 KM/JAM ini akan membuat kendaraan dari lajur berlawanan akan membahayakan dirinya. Belum lagi kendaraan dibelakangnya yang juga ingin mengambil jalur sama ikut dibuatnya celaka. Tergesa-gesa, menyebrang atau memotong jalur tanpa melihat kanan kiri tanpa menyalakan atau mematikan lampu sein dan sebagainya.

Yang demikian itu merupakan permisalan kecil yang dapat kita saksikan sendiri sebagai pria dan kalian rasakan sendiri sebagai wanita tanpa harus melakukan pembuktian ilmiah. Udah rahasia umum, lah yaa. Hhe

Lantas salahkan jika Allah membuat permisalan seperti demikian?

Jika dikatakan “salah,” mungkin wanita memiliki bantahan tersendiri. Apalagi wanita-wanita lulusan TIKTOK Universiti yang memiliki standarisasinya sendiri tentang dunia ini. Yaa kita gak bisa mengeneralisasikan semua base on gendre. Tapi jika dikatakan para lelaki dalam islam adalah patriarki mungkin kutipan yang saya temukan di atas akan saya lemparkan ke kalian agar kalian tahu diri. Wkk

Tidak yaaa...

Kita kembali lagi kepada hal yang akan kita ulas.

Gak semua wanita sepeti itu.. iya benar!

Banyak wanita-wanita cerdas dan kompeten dalam pengambilan keputusan. Contohnya istri saya, dia adalah wanita pandai yang cerdas dan pas banget saat mengambil keputusan untuk menerima lamaran saya, khehe.

Serius banget wkk

Segalanya kembalikan lagi kepada Sang Pencipta, bagaimana Allah menciptakan kita dan begitu pula lah Allah sangat mengerti kebutuhan dan apapun yang ada pada ciptaan-Nya. Kalian tidak perlu berkecilhati tatkala mengetahui fakta bahwa kalian diciptakan dari tulang rusuk yang ‘bengkok” toh tafsirannya adalah memberikan kalian pemahaman bahwa sebagai wanita kalian perlu pendamping yang dapat meluruskan kebengkokan tersebut.

Apasih dari tadi bungkak bengkok bungkak bengkok?

Masuk lagi dalam hal yang barusan kita bicarakan.

Jika melihat dari rangkaian cerita yang sudah kita tahu bahwa prosesi manusia terusir dari surga adalah karena wanita atau Ibunda Siti Hawa yang memiliki ide untuk memakan buah keabadian padahal buah itu adalah satu-satunya buah yang Allah larang untuk didekati. Tapi kekeuh dan sangat inginnya Siti Hawa, maka sebagai lelaki Ayahanda Adam Allaihissalam menjadi eksekutor. Ya, beliau ambil dan beliau makan berdua. Gak heran kalau kita punya hasrat maling buah di kebon tetangga, ibarat kata, tuh ‘buah gak jatuh dari jauh pohonnya’. Astaghfirullah lemes banget dah ini mulut. Maaf yaa Kakek Adam gak maksud nyidir.

Ada beberapa poin penting yang jangan sampai terlewatkan dari prosesi terusirnya manusia dari surga ini.

Pertama :

Manusia adalah makhluk yang pasti akan berbuat kesalahan.

Kisah ini mendeskripsikan sifat manusia itu seperti apa. Meskipun di awal Allah sudah menghalalkan segala sesuatunya di surga dan Allah hanya membuat satu larangan. SATU! Catat ini, hanya satu larangan tatkala itu. Tapi tetap saja dilanggar oleh manusia.

Mungkin saat menyimak cerita ini, ada beberapa dari kita menyombongkan dirinya dengan berkata, “Ah seandainya saja saya yang berada di sana. Saya pasti akan menuruti perintah Allah itu. Toh semua sudah halal kan di surga, enak” nah itu sombong.

Sifat seperti ini memang sudah menjadi setelan pabrik kita sebagai manusia. Yakni pasti berbuat kesalahan. Jangan dulu kita berbicara di SURGA atau berbicara “Jika aku yang menjadi ADAM tatkala itu” jangan dulu. Kakek kita seorang NABI, itu pun berbuat kesalahan, lha kita siapee?

Di kehidupan kita yang saat ini kita jalani pun sifat-sifat manusia ini sudah bisa kita lihat. Contohnya, dari berbagai minuman yang Allah halalkan, mau pokari, yakult biar usus sehat, berbagai macam jus, apapun itu boleh dan Allah hanya mengharamkan satu minuman aja, Cuma satu jenis minuman yaitu KHAMR (minuman memabukan) cuma itu aja yang Allah haramkan. Dilanggar ga?

‘buah jatuh gak jauh dari pohonnya’

Udah jangan sok-sok’an mengambil peran Nabi Adam udah emang sifat kita suka berbuat kesalahan.

Kedua :

Fitnah wanita, kita katakan tadi adalah bengkok. Inilah yang dimaksud, Bahwa keputusan atau keinginan wanita yang tidak terkendali atau mindblowing akan menjadi fitnah atau cobaan baru dalam segala hal. Akalnya yang tidak terseting untuk realistis dan jauh dari kata logis akan menimbulkan sebuah konseptual baru dalam kehidupan hingga terkadang sulit untuk dikendalikan. Kesetaraan gender, Feminsme, Childfree dan banyak lagi.

Gak heran ketika Allah membuat larangan hal yang pertama kali memiliki ide untuk melanggarnya adalah wanita. Maka dari itu banyak sekali syariat agama yang seolah mengikat wanita. “Seolah-olah” iya padahal perintahnya hanya sedikit, perintah untuk wanita hanya 4 jika kalian ingin tahu.

1.       Menjaga Solat

2.       Menjaga puasa

3.       Menjaga kehormatan (aurat dan sejenisnya)

4.       Menaati suami

Empat pilar ini yang perlu dilakukan wanita dan semuanya adalah beban yang amat sangat berat. Wanita-wanita yang berdandan akan malas solat karena takut makeupnya luntur alasan lain gak berbusana baik, gak mau terlihat sok suci dan dan dan lain lain. Mens ditengah ramadhan setelahnya gak bayar utang puasa karena minim pengetahuan. Nah ini paling berat, menjaga kehormatan (aurat) ingin terlihat cantik, modis ngikutin trand busana dan dan dan lainnya. dan perintah terberat yang paling amat sangat berat adalah perinta menaati lelaki (suami) udah level tinggkat tinggi, raja terakhir bagi wanita yang amat sangat sulit untuk di lakukan adalah ini.

Jika melihat poin satu sampai tiga mungkin sedikit bantahannya, karena berurusan dengan Allah. Akan tetapi poin ke empat urusannya dengan sesama manusia, suami sendiri bisa di bantah, argumennya bisa dipatahkan,  keberadaannya bisa dihapuskan (tinggal ancam cerai, rendahkan penhasilannya, ungkit kesalahan kecilnya) setelah itu kendalikan dia sepenuhnya. Begitu kiranya wanita kebanyakan.

Padahal jika keempatnya terjaga (gak harus sempurna) karena Allah juga tahu kita tuh manusia yang suka terjerumus kepada kesalahan. Allah hanya ingin tahu sejauh apa usaha kalian memenuhi ke empat perintah itu. Maka janji Allah untuk mereka adalah bebas memasuki surga dari pintu mana saja yang dia mau.

FYI pintu-pintu surga itu terbagi sesuai kebisaan manusia di dunia. Ada yang rajin solat masuk melalui pintu golongan orang-orang rajin solat, begitupun pintu sedekah, pintu yang rajin puasa, pintu ahli alquran yang suka baca Alquran dan laiinya. Sementara kalian bebas, bisa dibayangkan privilage begitu bisa kalian dapetin dimana coba?

Mudah cuma jalanin yang empat perintah itu aja, gimana?

Ketiga :

Keputusan lelaki sebagai pemimpin keluarga amat dipertaruhkan demi keselamatan bersama. Mungkin dalam kisah manusia terusir dari surga kita akan menyoroti wanitanya saja. Padahal yang saya ingin sampaikan jauh dari pada itu.

Kedudukan seorang lelaki dalam eksekusi dan argumentatip untuk meluruskan wanitanya.

Inilah yang saya mau sampaikan. Poin terakhir yang luput dari penglihatan kita adalah bahwa seandainya saja Nabi Adam lebih tegas dan lebih kritis dalam menaggapi permintaa Ibunda Siti Hawa mungkin saja prosesi terusirnya manusia dari surga akan lain cerita.

Meskipun balik lagi, sekenario Allah yaa begitu. Allah Maha Mengetahui kababilitas ciptaan-Nya sejauh mana. Maka sekenario tersyarat akan makna inilah yang terjadi. Subhanallah, yah.

Itulah dia, peran sebagai Pria adalah menanggung jawab dunia akhirat bagi wanita dan keturunannya. Itu semua dimulai dari pengambilan keputusan kita sebagai pria dalam memilah dan memilih mana yang terbaik bagi keluarga. Bukan berarti wanita atau istri kita gak boleh berpendapat, justru sebaliknya wanita yang memiliki pemikiran mindblowing dan liar tadi amat sangan perlu kita ajak bicara. Selanjutnya dari kelemahannya kita yang menutupi, pendapatnya yang bengkok perlu kita luruskan dengan begitu akan terjadi kolaborasi yang pas.

Wallahu’alam...

0 komentar:

Posting Komentar