Ketika wanita pertama kali diberi kesempatan untuk membuat keputusan, disaat itu manusia terusir dari surga.
Saya sempat membaca kutipan ini pada sebuah postingan yang
melintas di beranda sosial media. Kalimat singkat yang syarat akan makna ini
membuat saya berpikir sejenak sebelum kemudian tertawa kecil setelah mengetahui
maksud tersiratnya.
Setelah beberapa hari kemudian kata-kata tersebut terbesit
kembali dalam lamunan. Kemudian menimbulkan sebuah pemikiran yang cukup mendalam,
sampai-sampai saya harus membuat tulisan ini. Beberapa diantaranya adalah,
Mengapa wanita?
Sesuai permisalan dalam agama wanita merupakan makhluk yang ‘bengkok’
dan selama-lamanya akan seperti itu. Ini bagian dari fitrahnya atau bisa
dibilang ‘setelan pabriknya’ sudah demikian. Jadi setiap apapun keputusannya,
langkahnya dan termasuk dirinya sendiri pun adalah sesuatu yang perlu koreksi
atau pendampingan.
Kita ambil saja contoh wanita dalam berkendara. Sejauh
apapun jam terbangnya dalam berkendara, terkadang ada beberapa hal yang tidak
bisa dia tutupi dari dirinya sebagai wanita. Di antaranya adalah pengambilan keputusan,
terkadang terlalu tergesa-gesa atau terkadang terlalu lambat perhitungannya. Terlalu
lambat, tidak jarang kita melihat wanita yang ingin menyalip mobil tapi kecepatannya
dibawah 50 KM/JAM ini akan membuat kendaraan dari lajur berlawanan akan
membahayakan dirinya. Belum lagi kendaraan dibelakangnya yang juga ingin
mengambil jalur sama ikut dibuatnya celaka. Tergesa-gesa, menyebrang atau memotong
jalur tanpa melihat kanan kiri tanpa menyalakan atau mematikan lampu sein dan sebagainya.
Yang demikian itu merupakan permisalan kecil yang dapat kita
saksikan sendiri sebagai pria dan kalian rasakan sendiri sebagai wanita tanpa
harus melakukan pembuktian ilmiah. Udah rahasia umum, lah yaa. Hhe
Lantas salahkan jika Allah membuat permisalan seperti
demikian?
Jika dikatakan “salah,” mungkin wanita memiliki bantahan
tersendiri. Apalagi wanita-wanita lulusan TIKTOK Universiti yang memiliki standarisasinya
sendiri tentang dunia ini. Yaa kita gak bisa mengeneralisasikan semua base on
gendre. Tapi jika dikatakan para lelaki dalam islam adalah patriarki mungkin
kutipan yang saya temukan di atas akan saya lemparkan ke kalian agar kalian
tahu diri. Wkk
Tidak yaaa...
Kita kembali lagi kepada hal yang akan kita ulas.
Gak semua wanita sepeti itu.. iya benar!
Banyak wanita-wanita cerdas dan kompeten dalam pengambilan
keputusan. Contohnya istri saya, dia adalah wanita pandai yang cerdas dan pas
banget saat mengambil keputusan untuk menerima lamaran saya, khehe.
Serius banget wkk
Segalanya kembalikan lagi kepada Sang Pencipta, bagaimana Allah
menciptakan kita dan begitu pula lah Allah sangat mengerti kebutuhan dan apapun
yang ada pada ciptaan-Nya. Kalian tidak perlu berkecilhati tatkala mengetahui
fakta bahwa kalian diciptakan dari tulang rusuk yang ‘bengkok” toh tafsirannya
adalah memberikan kalian pemahaman bahwa sebagai wanita kalian perlu pendamping
yang dapat meluruskan kebengkokan tersebut.
Apasih dari tadi bungkak bengkok bungkak bengkok?
Masuk lagi dalam hal yang barusan kita bicarakan.
Jika melihat dari rangkaian cerita yang sudah kita tahu
bahwa prosesi manusia terusir dari surga adalah karena wanita atau Ibunda Siti Hawa
yang memiliki ide untuk memakan buah keabadian padahal buah itu adalah satu-satunya
buah yang Allah larang untuk didekati. Tapi kekeuh dan sangat inginnya Siti
Hawa, maka sebagai lelaki Ayahanda Adam Allaihissalam menjadi eksekutor. Ya,
beliau ambil dan beliau makan berdua. Gak heran kalau kita punya hasrat maling
buah di kebon tetangga, ibarat kata, tuh ‘buah gak jatuh dari jauh pohonnya’.
Astaghfirullah lemes banget dah ini mulut. Maaf yaa Kakek Adam gak maksud
nyidir.
Ada beberapa poin penting yang jangan sampai terlewatkan
dari prosesi terusirnya manusia dari surga ini.
Pertama :
Manusia adalah makhluk yang pasti akan berbuat kesalahan.
Kisah ini mendeskripsikan sifat manusia itu seperti apa. Meskipun
di awal Allah sudah menghalalkan segala sesuatunya di surga dan Allah hanya
membuat satu larangan. SATU! Catat ini, hanya satu larangan tatkala itu. Tapi
tetap saja dilanggar oleh manusia.
Mungkin saat menyimak cerita ini, ada beberapa dari kita menyombongkan
dirinya dengan berkata, “Ah seandainya saja saya yang berada di sana. Saya
pasti akan menuruti perintah Allah itu. Toh semua sudah halal kan di surga,
enak” nah itu sombong.
Sifat seperti ini memang sudah menjadi setelan pabrik kita
sebagai manusia. Yakni pasti berbuat kesalahan. Jangan dulu kita berbicara di
SURGA atau berbicara “Jika aku yang menjadi ADAM tatkala itu” jangan dulu. Kakek
kita seorang NABI, itu pun berbuat kesalahan, lha kita siapee?
Di kehidupan kita yang saat ini kita jalani pun sifat-sifat
manusia ini sudah bisa kita lihat. Contohnya, dari berbagai minuman yang Allah halalkan,
mau pokari, yakult biar usus sehat, berbagai macam jus, apapun itu boleh dan
Allah hanya mengharamkan satu minuman aja, Cuma satu jenis minuman yaitu KHAMR
(minuman memabukan) cuma itu aja yang Allah haramkan. Dilanggar ga?
‘buah jatuh gak jauh dari pohonnya’
Udah jangan sok-sok’an mengambil peran Nabi Adam udah emang
sifat kita suka berbuat kesalahan.
Kedua :
Fitnah wanita, kita katakan tadi adalah bengkok. Inilah yang
dimaksud, Bahwa keputusan atau keinginan wanita yang tidak terkendali atau mindblowing
akan menjadi fitnah atau cobaan baru dalam segala hal. Akalnya yang tidak
terseting untuk realistis dan jauh dari kata logis akan menimbulkan sebuah konseptual
baru dalam kehidupan hingga terkadang sulit untuk dikendalikan. Kesetaraan
gender, Feminsme, Childfree dan banyak lagi.
Gak heran ketika Allah membuat larangan hal yang pertama
kali memiliki ide untuk melanggarnya adalah wanita. Maka dari itu banyak sekali
syariat agama yang seolah mengikat wanita. “Seolah-olah” iya padahal
perintahnya hanya sedikit, perintah untuk wanita hanya 4 jika kalian ingin
tahu.
1.
Menjaga Solat
2.
Menjaga puasa
3.
Menjaga kehormatan (aurat dan sejenisnya)
4.
Menaati suami
Empat pilar ini yang perlu dilakukan wanita dan semuanya
adalah beban yang amat sangat berat. Wanita-wanita yang berdandan akan malas
solat karena takut makeupnya luntur alasan lain gak berbusana baik, gak mau
terlihat sok suci dan dan dan lain lain. Mens ditengah ramadhan setelahnya gak
bayar utang puasa karena minim pengetahuan. Nah ini paling berat, menjaga
kehormatan (aurat) ingin terlihat cantik, modis ngikutin trand busana dan dan
dan lainnya. dan perintah terberat yang paling amat sangat berat adalah perinta
menaati lelaki (suami) udah level tinggkat tinggi, raja terakhir bagi wanita
yang amat sangat sulit untuk di lakukan adalah ini.
Jika melihat poin satu sampai tiga mungkin sedikit
bantahannya, karena berurusan dengan Allah. Akan tetapi poin ke empat urusannya
dengan sesama manusia, suami sendiri bisa di bantah, argumennya bisa
dipatahkan, keberadaannya bisa
dihapuskan (tinggal ancam cerai, rendahkan penhasilannya, ungkit kesalahan
kecilnya) setelah itu kendalikan dia sepenuhnya. Begitu kiranya wanita kebanyakan.
Padahal jika keempatnya terjaga (gak harus sempurna) karena
Allah juga tahu kita tuh manusia yang suka terjerumus kepada kesalahan. Allah hanya
ingin tahu sejauh apa usaha kalian memenuhi ke empat perintah itu. Maka janji Allah
untuk mereka adalah bebas memasuki surga dari pintu mana saja yang dia mau.
FYI pintu-pintu surga itu terbagi sesuai kebisaan manusia di
dunia. Ada yang rajin solat masuk melalui pintu golongan orang-orang rajin
solat, begitupun pintu sedekah, pintu yang rajin puasa, pintu ahli alquran yang
suka baca Alquran dan laiinya. Sementara kalian bebas, bisa dibayangkan
privilage begitu bisa kalian dapetin dimana coba?
Mudah cuma jalanin yang empat perintah itu aja, gimana?
Ketiga :
Keputusan lelaki sebagai pemimpin keluarga amat dipertaruhkan
demi keselamatan bersama. Mungkin dalam kisah manusia terusir dari surga kita
akan menyoroti wanitanya saja. Padahal yang saya ingin sampaikan jauh dari pada
itu.
Kedudukan seorang lelaki dalam eksekusi dan argumentatip
untuk meluruskan wanitanya.
Inilah yang saya mau sampaikan. Poin terakhir yang luput
dari penglihatan kita adalah bahwa seandainya saja Nabi Adam lebih tegas dan
lebih kritis dalam menaggapi permintaa Ibunda Siti Hawa mungkin saja prosesi
terusirnya manusia dari surga akan lain cerita.
Meskipun balik lagi, sekenario Allah yaa begitu. Allah Maha
Mengetahui kababilitas ciptaan-Nya sejauh mana. Maka sekenario tersyarat akan
makna inilah yang terjadi. Subhanallah, yah.
Itulah dia, peran sebagai Pria adalah menanggung jawab dunia
akhirat bagi wanita dan keturunannya. Itu semua dimulai dari pengambilan
keputusan kita sebagai pria dalam memilah dan memilih mana yang terbaik bagi
keluarga. Bukan berarti wanita atau istri kita gak boleh berpendapat, justru
sebaliknya wanita yang memiliki pemikiran mindblowing dan liar tadi amat sangan
perlu kita ajak bicara. Selanjutnya dari kelemahannya kita yang menutupi,
pendapatnya yang bengkok perlu kita luruskan dengan begitu akan terjadi kolaborasi
yang pas.
Wallahu’alam...

0 komentar:
Posting Komentar