Sering banget hati kita ngerasa gak karuan. Gelisah tanpa alasan dan hal-hal yang menyita fikiran. Tapi semakin difikirkan justeru kita semakin jauh dari jawaban. Alias gak tahu kenapa sebabnya. Inilah beberapa hal yang semestinya kita renungkan.
Perenungan itu yang membawa kita ke tingkatan lebih dalam
lagi memahami yang namanya panggilan Allah kepada hati kita. Sebagaimana kita
telah melalui segala macam perkara yang menyibukan ada kalanya kita perlu
beristirahat. Seperti itulah kiranya yang Allah inginkan untuk kita.
Jika Allah melihat hamba-Nya sudah terlalu jauh dari jalan
yang semestinya. Allah terkadang memanggil kita dengan dibuatnya resah akan hal
yang tidak kita tahu sebabnya. Resah aja gitu. Terkadang itulah waktu yang
tepat buat kita berbicara dan kembali lagi kepelukan-Nya, barang hanya sesaat. Tapi
waktu itu amat berharga bagi kita.
Sadarilah bahwa itulah cara Allah tatkala merindukan
hamba-Nya. Allah hanya menginginkan kita berbicara mengutarakan apa yang
sebenarnya kita rasakan. Karena memang hanya itulah cara satu-satunya untuk
menghapus keresahan, kesedihan, kesepian, ketakutan dan apun itu. Hanya kepada-Nya
lah kita meminta dan bercerita. Jika kita mengingatnya maka semua penyakit hati
dapat terobati.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram. (QS. Ar-Radd : 28)
Sudah jelas apa yang Allah katakan dalam firman-Nya bahwa
dengan mengingat-Nya lah hati ini akan menjadi tenang.
Terkadang kekhawatiran kita tentang mencurahkan segalanya
kepada Allah masih terhalang oleh dosa. Kita khawatir bahwa Allah tidak mungkin
sebegitunya untuk memperhatikan kita. Itu juga sering kurasakan. “Mengapa aku si pendosa ini merasakan resah
dan gelisan untuk hal-hal yang gak semestinya. Apa ini merupakan panggilan rasa
rindu juga dari Allah atau ini hukuman dari dosa-dosa yang aku lakukan?” kurang
lebih kita sepemikiran.
Maka jawabannya adalah apa yang kita rasakan bisa jadi benar
dan bisa jadi salah. Jika kita malu menemui Allah dengan dosa yang bertumpuk
dan tak terhingga maka seharusnya kita perlu bertaubat. Sejatinya memang tidak
ada hamba yang tidak berbuat kesalahan didalam hidupnya. Oleh karena itu
Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam sendiri yang mengabarkan,
“Setiap anak Adam berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang
yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad,
at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Sahabat Anas Bin Malik Radiallahu’anhu)
Jadi kedua hal itu memang benar ditujukan kepada kita. Jika memang
kita menemukan diri kita sebagai pendosa –memang semestinya kita merasakan hal
itu. Karena tidak ada satupun manusia yang suci kecuali para Nabi dan
Rosulullah. Tapi sekelas Rosulullah Shalallhu’alaihi wa sallam sendiri pun
selalu bertaubat sekurangnya seratus kali beliau beristighfar. Maka perasaan
kita akan dosa seharusnya melebihi itu semua. Jadi wajar dan memang seharusnya
perasaan itu ada.
Dosa-dosa kita juga bisa jadi topik utama untuk kita
obrolkan dengan Allah nantinya. Terdengar lucu, ya? Hehe
Begini singkatnya, jika kita ingin menemui seseorang yang
penting. Kita menyiapkan segala persiapan untuk mempresentasikan diri kita dan
maksud dari pertemua tersebut. Nah untuk menemui Allah dan berbicara dengan-Nya
mungkin dosa-dosa kita adalah topik utama yang paling pas untuk kita bicarakan.
Jadi kita tidak perlu berpura-pura lagi di hadapan-Nya. Karena Allah maha
mengetahui kita bahkan apa yang terbesit di hati kita, Allah sudah tahu. Oleh karena
itu buka-bukaan saja di hadapan-Nya.
Mulai dari pengakuan dan permohonan maaf juga permintaan
untuk selalu dilindungi agar tidak terjerumus lagi di dalam kubangan dosa yang
sama. Inikan jadi sebuah topik luar biasa yang bisa kita sampaikan kepada Allah
Robbul Izzati wal Jallalah.
Jadi bukan sebuah alasan ketika kita bilang bahwa, “Aku
banyak dosa, aku malu untuk meminta!” Justeru dosa dan rasa malu itulah yang
seharusnya jadi permintaan pertamamu untuk selalu diberi ampunan dan juga
kekuatan untuk selalu bisa berdoa. Bukan seperti sebagian orang yang menjadikan
dosa sebagai alasan untuk tidak mau lagi kembali kejalan yang benar.
Ingatlah, Allah selalu senang menerima taubatnya para
pendosa seperti kita. Allah sendiri yang bilang, kok.
Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa1 semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (QS. Az-Zumar : 53)
Tuhkan, Allah sendiri yang bilang. Jadi jangan beralasan
tentang dosa kita terlalu banyak sehingga kita gak mau bertaubat. Justeru
permintaan taubat kita adalah topik utama yang perlu kita bicarakan sama Allah.
Setelah itu baru kita berbicara tentang perkara dunia.
Di dalam sebuah pembicaraan singkat. Muncul sebuah
pertanyaan. Kapan waktu tepat berbicara sama Allah. Dan mungkin kalian sudah
tahu kapan waktunya, yaitu di sepertiga malam. Meskipun kapan saja sebenarnya
bisa. Tapi waktu terbaik adalah di waktu sepertiga malam.
Berarti selepas solat tahajud. Ini juga jadi sebuah
pertanyaan lagi, “Apa selepas solat tahajud ada susunan doanya?” Maka sejauh
yang kutahu bahwa tidak ada susunan khusus doa selepas solat tahajud. Oleh karena
itu judul ini dibuat. Yaitu benar-benar waktu yang tepat untuk berbicara apa
saja dengan Allah. Tanpa susunan doa dan dzikir tertentu selepas solat tahajud,
kita bisa meminta segala keinginan kita secara terang-terangan. Hanya ada Allah
dan kita di atas hamparan sajadah.
Dengan banyak berbincang dengan Allah, maka seiringan dengan
ini pula hubungan kita membaik dengan-Nya. Sehingga seolah-olah nantinya apapun
yang kita lakukan di dalam kehidup kita, kita perlu validasi dari Allah, pengakuan
dari Allah. Sampai kita berada pada satu momen dimana kita selalu berkata “Ya Robb, apakah
yang aku lakukan ini benar?” Di titik itu kita tidak lagi terbawa arus
kebanyakan manusia.

0 komentar:
Posting Komentar