Di dalam perut ikan paus dan Allah teguhkan ia agar tidak dicerna akan tetapi tetap saja berada didalam kesempitan dan kegelapan luar biasa. Jika yang terjadi kepada Nabi Yusuf adalah cobaan maka apa yang terjadi pada Nabi Yunus sebaliknya. Seperti yang kita tahu bahwa Yunus Alaihissalam mendapatkan teguran dari Allah karena mangkir atau pergi dari daerah yang Allah kuasakan kepadanya untuk didakwahi.
Akan tetapi Nabi Allah Yunus menyerah pada kaum tersebut dan
pergi dari daerah yang Allah tugaskan Ia di sana. Singkatnya Allah menegur
Yunus Alaihissalam dengan di takdirkannya Ia untuk ditelan seekor Ikan Paus. Kemudian
Nabi Allah Yunus menyadari dan bertaubat atas kesalahannya tersebut. Doanya
Nabi Yunus kepada Allah adalah doa paling luar biasa yang bisa kita praktekan
dalam kehidupan sehari-hari.
Ada yang sudah hafal doanya?
Allhamdulullah jika sudah pada hafal. Sebab doanya Nabi
Allah Yunus disabdakan oleh Rosulullah sebagai penyelesai segala persoalan.
Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Doa Dzun
Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: LAA ILAAHA
ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang
berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah
termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah
seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 3505. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
hadits ini shahih). Selengkapnya.
Sedikit membahas tentang doanya. Mengapa doa ini ampuh untuk segala
persoalan seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa
sallam?
Sebab didalamnya terdapat tiga poin penting dalam berdoa.
Pertama adalah kalimat Tauhid, ini merupakan pengagungan
terbesar seorang hamba kepada Allah Azza wa jalla. Dimana kita meng-Esakannya
dan mengikrarkan bahwasannya hanya kepada-Nya lah kita menyembah dan memohon
pertolongan. Tidak ada Dzat lain lagi yang patut untuk kita mintai
pertolongan-Nya kecuali Allah.
Kedua adalah pengakuan dosa dan kesalahan. Barangkali kita
selalu menuntut tentang doa-doa kita tapi kita tidak pernah ingat dengan apa
kita memohon. Apakah dengan keadaan suci ataukah dengan keadaan kotor penuh
dosa yang belum terampuni. Sementara kita tidak sadar akan hal itu dan terus
memohon. Lalu dengan wasilah apa permohonan tersebut dapat dikabulkan? Mudah saja
bagi Allah tapi ketika kita yang penuh dosa ini merasa bahwa permohonan kita
dengan mudah terkabul. Maka kita akan lupa untuk memohon ampun. Oleh sebab itu
di dalam doa Nabi Allah Yunus Alalhissalam terkandung pengakuan dosanya. Sebab ia
lebih ingin diampuni terlebih dahulu dan kemudian diselamatkan. Begitupun kita,
sudah sepatutnya memohon ampun terlebih dahulu dan memohon untuk urusan yang
lainnya setelah itu.
Ketiga adalah kalimat permohonan ampun itu sendiri. Sebab dari
kasus Nabi Allah Yunus, dia tidak sedang memohon untuk urusan dunianya akan
tetapi keridooan Allah mengampuni kesalahannya. Itulah hal yang lebih penting
dari apapun bagi seorang Nabi. Kehillangan dunia dan seisinya bukan apa-apa
bagi mereka. Tetapi kehilangan ridho dari Rabb alam semesta adalah hal yang
paling menakutkan bagi mereka. Berbeda dengan aku, kamu dan kita semua. Kita akan
sangat terpukul apabila kehilangan sebagian nikmat dunia. Itu hal wajar tapi
setelahnya kita menyalahkan Tuhan. Menyalahkan Allah dan tidak menerima itu
semua. Maka sadarilah sebagaimana Nabi Yunus menyadari kesalahannya. Bisa jadi
hilangnya nikmat Allah sebab Allah ingin kita kembali membutuhkan DIA lagi.
Kembali ke dalam kisah.
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?
Nabi Allah Yunus diuji sebab kesalahannya. Dia ditenggelamkan
dan dimakan Ikan paus serta berada di dalam perutnya. Kita bagaimana jika ada
diposisi tersebut?
Tentu sebagai manusia biasa ketika kita tidak dapat lagi
menemukan bantuan siapa-siapa. Satu Dzat yang akan kita ingat adalah Penguasa
Alam semesta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Secara otomatis, apa bila kita berada
dalam kesulitan maka kita akan segera mengingat-Nya. Tapi cobaan setiap manusia
berbeda-beda. Lalu bagaimana jika cobaan yang menimpa kita bukan kegelapan
seperti apa yang dialami oleh Nabi Yunus Alaihissalam. Bagaimana jika cobaan
itu berupa kenikmatan yang kita tidak tahu bahwa itu merupakan seburuk-buruknya
hukuman.
Itulah mengapa kita perlu belajar dari kisah ini. Jika kita berburuk
sangka terhadap Allah maka kita akan celaka. Sebab sangkaan kita adalah
sangkaan manusia yang tidak tahu apa-apa tentang takdir di dunia. Wujud kecintaan
Allah kepada Nabi Yunus adalah seperti apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an
surah Al Anbiya’ : 87-88. Allah menegur
tetapi tidak untuk meninggalkan. Allah menegur sebagai ujian keimanan. Sebagai
manusia ada yang kembali ada yang pergi menjadi lebih buruk lagi tatkala
mendapat cobaan. Itulah perbandingan kita dengan para Nabi. Seorang Nabi akan
lekas sadar bahwa apa yang menimpanya adalah dari Allah sebagai teguran atau
cobaan. Lalu bagaimana kita yang hanya manusia biasa. Itulah mengapa kita
perlu belajar dari kisah orang-orang soleh dan tidak ada kisah kesolehan yang
paling luar biasa selain kisah kesolehannya para Nabi.
Oleh sebab itu tatkala kita tertimpa masalah maka doa inilah
sebaik-baik jalan keluarnya. Tidak perlu memaksa terkabul dengan segera. Let it
flow, biarkan saja kita larut dalam kenikmatan berduaan dengan Allah. Bercerita
tentang apa yang kita lalui selama kita melupakan keberadaan-Nya. Kembali lagi
membujuk-Nya agar Allah mau mengakui kita lagi sebagai seorang hamba. Bersyukurlah
jika masih diberikan ujian berupa kesulitan. Sebab jika Allah sudah tidak
memerhatikan hamba-Nya lagi maka Allah uji dia dengan kenikmatan yang serba
melalaikan.

0 komentar:
Posting Komentar