Jumat, 18 Desember 2020

Kenikmatan Itu Melalaikan - Belajar dari Kisah Nabi Yunus

 Di dalam perut ikan paus dan Allah teguhkan ia agar tidak dicerna akan tetapi tetap saja berada didalam kesempitan dan kegelapan luar biasa. Jika yang terjadi kepada Nabi Yusuf adalah cobaan maka apa yang terjadi pada Nabi Yunus sebaliknya. Seperti yang kita tahu bahwa Yunus Alaihissalam mendapatkan teguran dari Allah karena mangkir atau pergi dari daerah yang Allah kuasakan kepadanya untuk didakwahi.

Akan tetapi Nabi Allah Yunus menyerah pada kaum tersebut dan pergi dari daerah yang Allah tugaskan Ia di sana. Singkatnya Allah menegur Yunus Alaihissalam dengan di takdirkannya Ia untuk ditelan seekor Ikan Paus. Kemudian Nabi Allah Yunus menyadari dan bertaubat atas kesalahannya tersebut. Doanya Nabi Yunus kepada Allah adalah doa paling luar biasa yang bisa kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang sudah hafal doanya?

Allhamdulullah jika sudah pada hafal. Sebab doanya Nabi Allah Yunus disabdakan oleh Rosulullah sebagai penyelesai segala persoalan. Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 3505. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Selengkapnya.

Sedikit membahas tentang doanya. Mengapa doa ini ampuh untuk segala persoalan seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam?

Sebab didalamnya terdapat tiga poin penting dalam berdoa.

Pertama adalah kalimat Tauhid, ini merupakan pengagungan terbesar seorang hamba kepada Allah Azza wa jalla. Dimana kita meng-Esakannya dan mengikrarkan bahwasannya hanya kepada-Nya lah kita menyembah dan memohon pertolongan. Tidak ada Dzat lain lagi yang patut untuk kita mintai pertolongan-Nya kecuali Allah.

Kedua adalah pengakuan dosa dan kesalahan. Barangkali kita selalu menuntut tentang doa-doa kita tapi kita tidak pernah ingat dengan apa kita memohon. Apakah dengan keadaan suci ataukah dengan keadaan kotor penuh dosa yang belum terampuni. Sementara kita tidak sadar akan hal itu dan terus memohon. Lalu dengan wasilah apa permohonan tersebut dapat dikabulkan? Mudah saja bagi Allah tapi ketika kita yang penuh dosa ini merasa bahwa permohonan kita dengan mudah terkabul. Maka kita akan lupa untuk memohon ampun. Oleh sebab itu di dalam doa Nabi Allah Yunus Alalhissalam terkandung pengakuan dosanya. Sebab ia lebih ingin diampuni terlebih dahulu dan kemudian diselamatkan. Begitupun kita, sudah sepatutnya memohon ampun terlebih dahulu dan memohon untuk urusan yang lainnya setelah itu.

Ketiga adalah kalimat permohonan ampun itu sendiri. Sebab dari kasus Nabi Allah Yunus, dia tidak sedang memohon untuk urusan dunianya akan tetapi keridooan Allah mengampuni kesalahannya. Itulah hal yang lebih penting dari apapun bagi seorang Nabi. Kehillangan dunia dan seisinya bukan apa-apa bagi mereka. Tetapi kehilangan ridho dari Rabb alam semesta adalah hal yang paling menakutkan bagi mereka. Berbeda dengan aku, kamu dan kita semua. Kita akan sangat terpukul apabila kehilangan sebagian nikmat dunia. Itu hal wajar tapi setelahnya kita menyalahkan Tuhan. Menyalahkan Allah dan tidak menerima itu semua. Maka sadarilah sebagaimana Nabi Yunus menyadari kesalahannya. Bisa jadi hilangnya nikmat Allah sebab Allah ingin kita kembali membutuhkan DIA lagi.

Kembali ke dalam kisah.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?

Nabi Allah Yunus diuji sebab kesalahannya. Dia ditenggelamkan dan dimakan Ikan paus serta berada di dalam perutnya. Kita bagaimana jika ada diposisi tersebut?

Tentu sebagai manusia biasa ketika kita tidak dapat lagi menemukan bantuan siapa-siapa. Satu Dzat yang akan kita ingat adalah Penguasa Alam semesta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Secara otomatis, apa bila kita berada dalam kesulitan maka kita akan segera mengingat-Nya. Tapi cobaan setiap manusia berbeda-beda. Lalu bagaimana jika cobaan yang menimpa kita bukan kegelapan seperti apa yang dialami oleh Nabi Yunus Alaihissalam. Bagaimana jika cobaan itu berupa kenikmatan yang kita tidak tahu bahwa itu merupakan seburuk-buruknya hukuman.

Itulah mengapa kita perlu belajar dari kisah ini. Jika kita berburuk sangka terhadap Allah maka kita akan celaka. Sebab sangkaan kita adalah sangkaan manusia yang tidak tahu apa-apa tentang takdir di dunia. Wujud kecintaan Allah kepada Nabi Yunus adalah seperti apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an surah  Al Anbiya’ : 87-88. Allah menegur tetapi tidak untuk meninggalkan. Allah menegur sebagai ujian keimanan. Sebagai manusia ada yang kembali ada yang pergi menjadi lebih buruk lagi tatkala mendapat cobaan. Itulah perbandingan kita dengan para Nabi. Seorang Nabi akan lekas sadar bahwa apa yang menimpanya adalah dari Allah sebagai teguran atau cobaan. Lalu bagaimana kita yang hanya manusia biasa. Itulah mengapa kita perlu belajar dari kisah orang-orang soleh dan tidak ada kisah kesolehan yang paling luar biasa selain kisah kesolehannya para Nabi.  

Oleh sebab itu tatkala kita tertimpa masalah maka doa inilah sebaik-baik jalan keluarnya. Tidak perlu memaksa terkabul dengan segera. Let it flow, biarkan saja kita larut dalam kenikmatan berduaan dengan Allah. Bercerita tentang apa yang kita lalui selama kita melupakan keberadaan-Nya. Kembali lagi membujuk-Nya agar Allah mau mengakui kita lagi sebagai seorang hamba. Bersyukurlah jika masih diberikan ujian berupa kesulitan. Sebab jika Allah sudah tidak memerhatikan hamba-Nya lagi maka Allah uji dia dengan kenikmatan yang serba melalaikan. 


0 komentar:

Posting Komentar