Terkadang memang menyakitkan akan tetapi takdir Allah bisa
jadi lebih baik dari ini. Aku ingin sedikit memberi pelajaran tentang keindahan
Allah tatkala menunda sesuatu. Kita flashback ke masa lampau. Masa dimana Nabi Allah
Yusuf Allaihissalam diutus dan kisahnya diceritakan secara terperinci pada
surah Yusuf.
Beliau Allaihissalam di fitnah telah menzinahi Permaisuri
raja, biasa di sebut Zulaiha. Nama Zulaiha sendiri sebenarnya tidak ada asal
usulnya. Karena di dalam Al-Qur’an, Allah merahasiakan nama wanita tersebut.
Maka tidak sepatutnya kita menggunakan nama itu juga. Ini semua demi kemurnian
kisah yang telah Allah turunkan dalam Al-Qur’an. Singkatnya, Allah saja
merahasiakan nama wanita tersebut masa kita ingin menggunakan nama Zulaiha yang
hanya berdasarkan cerita kebanyakan manusia.
Kita memasuki cerita.
Plot kisah ini kita ambil dari sebelum Nabi Allah Yusuf
Alaihissalam memasuki penjara. Dia Alaihissalam di fitnah menzinahi permaisuri
raja. Maka sejatinya Allah menakdirkan Nabi Yusuf Alaihissalam dipenjara. Ingat
kata kuncinya adalah “ditakdirkan oleh Allah”, apakah Nabi Allah Yusuf tidak Allah
cintai?
Tentunya Allah sangatlah mencintai para Nabi dan Rosul. Tidak
ada manusia yang lebih Allah cintai kecuali para Nabi dan Rosul. Sebab kesolehannya
dan kesabarannya mendakwahkan Asma Allah di hadapan orang banyak. Jadi apa
mungkin Allah membuang Nabi-Nya sendiri kedalam penjara yang dingin serta serba
kekurangan, gelap dan terkurung diantara orang-orang bersalah. Ini sebuah
kekeliruan, jika kita pandang menggunakan kacamata manusia. Akan tetapi
dihadapan Allah ini adalah takdir yang manis yang nantinya akan didapatkan
oleh Yusuf Alaihissalam.
Mengapa harus Yusuf?
Karena Allah tahu betul tingkat keimanan Nabi-Nya melebihi
manusia biasa. Allah percaya bahwa Nabi Yusuf mampu bersabar diatas ujian dan
fitnahan seperti ini. Bagi seorang Nabi kehilangan dunia serta seisinya jauh lebih
baik dari pada kehilangan Allah. Itu sudah dipastikan dan tidak lagi ada yang
meragukan keimanan seperti itu. Untuk sebuah cobaan yang dilalui Nabi Yusuf
yaitu dipenjara, bagi Nabi Yusuf itu tidak ada artinya sama sekali. Meskipun
sebelumnya Permaisuri raja serta wanita-wanita yang tergoda juga oleh
ketampanan Nabi Yusuf Alaihissalam berencana membuat sebuah pengecualian agar
beliau bisa diampuni asalkan Nabi Allah Yusuf mau menuruti dan memuaskan nafsu
mereka. Tapi seperti inilah jawaban Nabi Yusuf kepada mereka,
Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku! Penjara
lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau
hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi
keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh." (QS.
Yusuf : 33)
Begitulah kiranya keimanan serta ketundukan Nabi Allah
Yusuf. Jika kita ada diposisi tersebut bisa jadi kita mengambil jalur yang salah
sebab bagaimana mungkin kita menolak ajakan wanita-wanita cantik dan lebih
memilih untuk dipenjara? Allahul musta’an, sesungguhnya Allahlah tempat kita memohon
pertolongan.
Singkatnya setelah beberapa waktu Nabi Yusuf di dalam
penjara. Allah takdirkan dua orang pemuda juga masuk dan satu ruangan
bersamanya. Kemudian mereka bermimpi dan meminta Nabi Yusuf untuk mentakwil
mimpinya. Mengartikan mimpi adalah keahlian yang Allah berikan kepada Nabi-Nya
Yusuf. Maka diartikanlah mimpi mereka berdua olehnya.
Kedua pemuda tersebut mendapatkan takwil mimpi yang amat
sangat bertentangan. Pemuda yang satu selamat dan dikabarkan akan mendapatkan
pekerjaan sebagai pelayan bangsawan. Sementara pemuda yang satunya lagi akan
disalib dan mati dalam keadaan kepalanya dimakani oleh burung. Kemudian Yusuf
berpesan kepada pemuda yang mendapat kabar selamat untuk menceritakan
tentangnya yang berada dipenjara tetang keahliannya mentakwil mimpi dan
kebaikannya.
Maka disinilah kita akan mengambil ibroh dari penggalan
kisah Nabi Allah Yusuf Alaihissalam. Allah menakdirkan bahwa Nabi Yusuf Allahissalam
tidak cepat-cepat keluar dari penjara. Sebab si pemuda yang selamat tersebut
dibuat lupa oleh setan. Pemuda tersebut tidak menyebut-nyebut nama Yusuf
dihadapan tuannya. Maka takdir Allah kepada Nabi Yusuf berjalan lebih lama
lagi. Allah menunda kebebasan Nabi Yusuf dengan cara-Nya. Beberapa tahun
lamanya Nabi Allah Yusuf terpenjara.
Hingga tiba saatnya Mesir dihadapkan kepada kehancuran. Sang
raja bermimpi dan meminta pelayannya untuk mentakwil, mengartikan mimpinya
tersebut. Akan tetapi tidak ada yang mampu mentakwil mimpi dan mereka hanya
mengatakan bahwa apa yang dimimpikan raja hanyAllah mimpi-mimpi yang kosong. Tidak
memiliki arti apapun melaikan hanya bunga tidur.
Kemudian Allah takdirkan salah satu pelayan yang dulunya
sempat dibuat lupa oleh syaiton kembali teringat tentang Yusuf yang mampu
mentakwil mimpi. Maka berjalanlah takdir Allah yang lain untuk Nabi-Nya yusuf. Setelah
bertahun-tahun Allah uji dia dalam penjara dan Allah tunda kebebasannya. Disinilah kemanisan dari takdir Allah akan dirasakan oleh Nabi-Nya Yusuf.
Dihadapkanlah Yusuf kepada raja, kemudian beliau Allahissalam
mentakwil apa yang raja mimpikan. Bisa kalian baca sendiri pada Al-Qur’an yang
kalian miliki di Surah Yusuf ayat 45-50. Maka dari takwil mimpi tersebut Mesir
akan dihadapkan pada masa sulit nantinya serta Nabi Yusuf memberikan takwilan
jalan keluarnya juga. Dari sanalah buah manis yang Nabi Yusuf rasakan,
diangkatlah beliau Alaihissalam sebagai bendahara kerajaan Mesir sebagaimana
yang ia inginkan karena keilmuannya memang dibidang tersebut, wallahu’alam.
Intinya Nabi Yusuf menjadi orang terpandang dan memiliki kedudukan yang agung. Semua
dihasilkan karena ketakwaannya yang luar biasa serta kesabarannya yang teramat
sabar dalam menghadapi takdir Allah untuknya.
Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada
Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal dimana saja yang dia kehendaki. Kami
melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf : 56)
Seperti itulah cara Allah memuliakan hamba-Nya. Seorang Nabi
yang bertahan di dalam gelap dan dinginnya penjara kemudian ujian itu dengan
baik ia lalui. Balasan Allah adalah kedudukan yang mulia di kerajaan yang
memenjarakannya. Padahal mungkin Nabi Yusuf tidak pernah membayangkan kedudukan
seperti itu, mungkin baginya pulang bertemu ayahnya yang telah lama tidak ia
jumpai adalah hal yang paling ia inginkan. Tetapi tidak, Allah mengingnkan
tempat paling mulia baginya. Serta kemudia ditempat itu ia bisa membawa Ayahnya
serta menikmati pencapaiannya. Itulah keadaan yang baik menurut Allah, bukan
menurut Yusuf.
Mungkin pada dasarnya kita pun sama. Kita merasa selalu
berada dikeadaan yang buruk dan tidak meng-enakan. Akan tetapi mungkin Allah
sedang menguji kita untuk nantinya Allah tempatkan di kedudukan yang baik
menurut Allah, bukan menurut kita.

0 komentar:
Posting Komentar