Minggu, 13 Desember 2020

Indahnya Rencana Allah - Belajar dari Kisah Nabi Yusuf

Terkadang memang menyakitkan akan tetapi takdir Allah bisa jadi lebih baik dari ini. Aku ingin sedikit memberi pelajaran tentang keindahan Allah tatkala menunda sesuatu. Kita flashback ke masa lampau. Masa dimana Nabi Allah Yusuf Allaihissalam diutus dan kisahnya diceritakan secara terperinci pada surah Yusuf.

Beliau Allaihissalam di fitnah telah menzinahi Permaisuri raja, biasa di sebut Zulaiha. Nama Zulaiha sendiri sebenarnya tidak ada asal usulnya. Karena di dalam Al-Qur’an, Allah merahasiakan nama wanita tersebut. Maka tidak sepatutnya kita menggunakan nama itu juga. Ini semua demi kemurnian kisah yang telah Allah turunkan dalam Al-Qur’an. Singkatnya, Allah saja merahasiakan nama wanita tersebut masa kita ingin menggunakan nama Zulaiha yang hanya berdasarkan cerita kebanyakan manusia.

Kita memasuki cerita.

Plot kisah ini kita ambil dari sebelum Nabi Allah Yusuf Alaihissalam memasuki penjara. Dia Alaihissalam di fitnah menzinahi permaisuri raja. Maka sejatinya Allah menakdirkan Nabi Yusuf Alaihissalam dipenjara. Ingat kata kuncinya adalah “ditakdirkan oleh Allah”, apakah Nabi Allah Yusuf tidak Allah cintai?

Tentunya Allah sangatlah mencintai para Nabi dan Rosul. Tidak ada manusia yang lebih Allah cintai kecuali para Nabi dan Rosul. Sebab kesolehannya dan kesabarannya mendakwahkan Asma Allah di hadapan orang banyak. Jadi apa mungkin Allah membuang Nabi-Nya sendiri kedalam penjara yang dingin serta serba kekurangan, gelap dan terkurung diantara orang-orang bersalah. Ini sebuah kekeliruan, jika kita pandang menggunakan kacamata manusia. Akan tetapi dihadapan Allah ini adalah takdir yang manis yang nantinya akan didapatkan oleh Yusuf Alaihissalam.

Mengapa harus Yusuf?

Karena Allah tahu betul tingkat keimanan Nabi-Nya melebihi manusia biasa. Allah percaya bahwa Nabi Yusuf mampu bersabar diatas ujian dan fitnahan seperti ini. Bagi seorang Nabi kehilangan dunia serta seisinya jauh lebih baik dari pada kehilangan Allah. Itu sudah dipastikan dan tidak lagi ada yang meragukan keimanan seperti itu. Untuk sebuah cobaan yang dilalui Nabi Yusuf yaitu dipenjara, bagi Nabi Yusuf itu tidak ada artinya sama sekali. Meskipun sebelumnya Permaisuri raja serta wanita-wanita yang tergoda juga oleh ketampanan Nabi Yusuf Alaihissalam berencana membuat sebuah pengecualian agar beliau bisa diampuni asalkan Nabi Allah Yusuf mau menuruti dan memuaskan nafsu mereka. Tapi seperti inilah jawaban Nabi Yusuf kepada mereka,

Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh." (QS. Yusuf : 33)

Begitulah kiranya keimanan serta ketundukan Nabi Allah Yusuf. Jika kita ada diposisi tersebut bisa jadi kita mengambil jalur yang salah sebab bagaimana mungkin kita menolak ajakan wanita-wanita cantik dan lebih memilih untuk dipenjara? Allahul musta’an, sesungguhnya Allahlah tempat kita memohon pertolongan.

Singkatnya setelah beberapa waktu Nabi Yusuf di dalam penjara. Allah takdirkan dua orang pemuda juga masuk dan satu ruangan bersamanya. Kemudian mereka bermimpi dan meminta Nabi Yusuf untuk mentakwil mimpinya. Mengartikan mimpi adalah keahlian yang Allah berikan kepada Nabi-Nya Yusuf. Maka diartikanlah mimpi mereka berdua olehnya.

Kedua pemuda tersebut mendapatkan takwil mimpi yang amat sangat bertentangan. Pemuda yang satu selamat dan dikabarkan akan mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan bangsawan. Sementara pemuda yang satunya lagi akan disalib dan mati dalam keadaan kepalanya dimakani oleh burung. Kemudian Yusuf berpesan kepada pemuda yang mendapat kabar selamat untuk menceritakan tentangnya yang berada dipenjara tetang keahliannya mentakwil mimpi dan kebaikannya.

Maka disinilah kita akan mengambil ibroh dari penggalan kisah Nabi Allah Yusuf Alaihissalam. Allah menakdirkan bahwa Nabi Yusuf Allahissalam tidak cepat-cepat keluar dari penjara. Sebab si pemuda yang selamat tersebut dibuat lupa oleh setan. Pemuda tersebut tidak menyebut-nyebut nama Yusuf dihadapan tuannya. Maka takdir Allah kepada Nabi Yusuf berjalan lebih lama lagi. Allah menunda kebebasan Nabi Yusuf dengan cara-Nya. Beberapa tahun lamanya Nabi Allah Yusuf terpenjara.

Hingga tiba saatnya Mesir dihadapkan kepada kehancuran. Sang raja bermimpi dan meminta pelayannya untuk mentakwil, mengartikan mimpinya tersebut. Akan tetapi tidak ada yang mampu mentakwil mimpi dan mereka hanya mengatakan bahwa apa yang dimimpikan raja hanyAllah mimpi-mimpi yang kosong. Tidak memiliki arti apapun melaikan hanya bunga tidur.

Kemudian Allah takdirkan salah satu pelayan yang dulunya sempat dibuat lupa oleh syaiton kembali teringat tentang Yusuf yang mampu mentakwil mimpi. Maka berjalanlah takdir Allah yang lain untuk Nabi-Nya yusuf. Setelah bertahun-tahun Allah uji dia dalam penjara dan Allah tunda kebebasannya. Disinilah kemanisan dari takdir Allah akan dirasakan oleh Nabi-Nya Yusuf.

Dihadapkanlah Yusuf kepada raja, kemudian beliau Allahissalam mentakwil apa yang raja mimpikan. Bisa kalian baca sendiri pada Al-Qur’an yang kalian miliki di Surah Yusuf ayat 45-50. Maka dari takwil mimpi tersebut Mesir akan dihadapkan pada masa sulit nantinya serta Nabi Yusuf memberikan takwilan jalan keluarnya juga. Dari sanalah buah manis yang Nabi Yusuf rasakan, diangkatlah beliau Alaihissalam sebagai bendahara kerajaan Mesir sebagaimana yang ia inginkan karena keilmuannya memang dibidang tersebut, wallahu’alam. Intinya Nabi Yusuf menjadi orang terpandang dan memiliki kedudukan yang agung. Semua dihasilkan karena ketakwaannya yang luar biasa serta kesabarannya yang teramat sabar dalam menghadapi takdir Allah untuknya.

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal dimana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf : 56)

Seperti itulah cara Allah memuliakan hamba-Nya. Seorang Nabi yang bertahan di dalam gelap dan dinginnya penjara kemudian ujian itu dengan baik ia lalui. Balasan Allah adalah kedudukan yang mulia di kerajaan yang memenjarakannya. Padahal mungkin Nabi Yusuf tidak pernah membayangkan kedudukan seperti itu, mungkin baginya pulang bertemu ayahnya yang telah lama tidak ia jumpai adalah hal yang paling ia inginkan. Tetapi tidak, Allah mengingnkan tempat paling mulia baginya. Serta kemudia ditempat itu ia bisa membawa Ayahnya serta menikmati pencapaiannya. Itulah keadaan yang baik menurut Allah, bukan menurut Yusuf.

Mungkin pada dasarnya kita pun sama. Kita merasa selalu berada dikeadaan yang buruk dan tidak meng-enakan. Akan tetapi mungkin Allah sedang menguji kita untuk nantinya Allah tempatkan di kedudukan yang baik menurut Allah, bukan menurut kita.


0 komentar:

Posting Komentar