Selasa, 21 Juli 2020

Definisi Umat Islam Seperti Buih di Lautan

Konon umat muslim di Indonesia adalah kaum mayoritas. Sayangnya, sejauh yang kutahu bahwa mereka hanya menyandarkan diri saja pada agama ini. Sebab kita tahu bahwa banyak dari kita yang menyepelekan kewajiban-kewajiban. Lalu apa yang diharapkan atas kebanggaan pada diri kita sebagai kaum mayoritas. Sebab kita tahu bahwa yang menjalankan ketaatan yang betul-betul saja disebut sebagai kaum yang 'berlebihan dalam beragama'. Padahal apa yang mereka lihat adalah sebagian kecil saja kewajiban yang dijalankan, bukan keseluruhan agama Islam yang indah ini. Lalu bagaimana jika mereka melihat orang yang betul-betul menjalankannya. Pasti asumsi yang hadir lebih dari sekedar itu, mungkin, Teroris, Radikal dan Ejekan lain yang lebih parah dari itu? Siapa yang tahu.

Fenomena ini lahir dari kalangan yang tidak mengindahkan agamanya sendiri. Lalu golongan kedua adalah golongan yang mengindahkan agama. Mereka yang mengerjakan kewajiban dan mereka kadang mendatangi majlis ta'lim. Namun jika mereka hadir, nampak pada wajah mereka lelah dan keterpaksaan ikut majlis ta'lim. Mereka hanya sekadar hadir agar orang tidak mencelanya. Karenanya jangan heran jika kita melihat golongan ini hadir di majlis ta'lim, ada yang ngantuk, bahkan tidur. Ada yang bersandar di tembok, jauh dari Ustadznya. Ada yang duduk di paling belakang untuk bersembunyi; jika mengantuk dan tertidur ia bisa bersembunyi di balik punggung orang di hadapannya. Ada yang bercerita dengan temannya sehingga mengganggu orang di sekitarnya. Ada yang fikirannya melayang entah kemana. Ada yang hanya datang tidak menulis apa-apa sehingga tidak membekas ilmu yang ia dengarkan. Inilah kondisi mereka sehingga tidak heran jika mereka tetap jahil terhadap agamanya.

Kemudian Ustadz akhir zaman menyiasatinya dengan mengemas dakwah islamiah yang agung ini menjadi sedemikian rupa menarik. Alih-alih membawa umat mayoritas ini kepada keluasan ilmu din. Mereka justru berlaku sebaliknya, yakni seringkali Asatidz membuat lelucon dan pernyataan nyeleneh soal Allah, Rosul-Nya dan agama ini khususnya. Sehingga tampaklah pada kita apa yang ingin Allah tampakkan. Bahwa mereka sangat jauh mengingat Allah kecuali pada beberapa musim saja.

Pada acara A B C D, mereka mengundang Ustadz kondang dan lucu, tentunya. Berbondong-bondong golongan yang kita sebutkan barusan mendatanginya. Bukan karena murni ingin mempelajari agama -tapi kerena jenakanya Ustadz tersebut. Maka setelah pulang dari majlis tawa itu, mereka tidak membawa apapun untuk diterapkan dalam kehidupan mereka. Melainkan hanya kepuasan menyaksikan kelucuan Ustadznya. 

Allahul Musta'an  

Maka kemudian produk dakwah seperti ini menghasilkan umat yang tidak mengerti soal urusan agama ini. Tidak memiliki tujuan yang jelas mengenai kehidupannya (halal haram tidak dipedulikan lagi) sehingga mereka berada di atas agama tapi terombang-ambing entah kemana. Seperti apa yang telah Rosulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sabdakan;

Dari Tsauban, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kamu, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”, Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kamu banyak, tetapi kamu buih (sampah), seperti buih (sampah) banjir. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar (takut) dari dada (hati) musuhmu terhadap kamu. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kamu,” Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian”. [Ulasan Hadist]

(HR Abu Dawud, no. 4297; Ahmad (5/278); Abu Nu’aim di dalam Hilyatul-Auliya’ (1/182). Hadits shahih lighairihi)






0 komentar:

Posting Komentar