Kamis, 05 Maret 2020

Belajar Tauhid dari Wabah Virus Corona

(Penyakit itu tidak menular) Kalau kita tengok sub judul pada postingan. Pasti hal itu terdengar sangat congkak dan sombong. Seolah penyakit itu tidak akan mengenai pada diri kita. Padahal islam tidak mengajarkan umatnnya untuk berlaku sombong. Sebenarnya yang ingin disampaikan adalah
Sungguh sebuah musibah itu akan berlaku atau tidaknya adalah atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sebagaimana telah Allah firmankan, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11) Jujur dalam islam tidak dianjurkan memelihara sifat paranoid oleh karena itu Rosulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (Shahih Sunan Abi Dawud) Hal ini pun ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu). (QS. An Nisa: 83) Dari Hadits dan ayat tersebut ini adalah agar manusia tidak dihantui rasa waswas yang berlebih atau dalam sitilah gaul PARNO -pakai A bukan O Apabila kita sudah termakan waswas dan ketakutan. Maka yang dirasakan oleh kita adalah musibah itu sendiri. Sebab ketakutan merupakan musibah, simak ayat berikut
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit KETAKUTAN, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (Al Baqarah : 155-156) Bertawakal adalah merupakan sebuah solusi utama menghadapi setiap hal, karena Rosulullah bersabda : “Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 3/1054) Sebagai manusia, rasa takut itu pasti ada. Tetapi Allah telah mengabarkan kepada setiap hambanya yang beriman. Melalui lisan Rosul-Nya, Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih). Tapi Islam tidak semata-mata mengajarkan kita agar acuh pada suatu keadaan Kita juga dianjurkan untuk melakukan aksi, baik pencegahan atau pun pengpbatan Aksi itu disebut ikhtiar dan setelah berikhtiar kita perlu bertawakal (menyerahkan hasilnya kepada Allah) Sebagaimana kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Rosulullah, "Wahai Rosulullah, apakah saya ikat unta saya lalu saya bertawaqal kepada Allah Azza wa Jalla ataukah saya lepas saja sambil bertawakal kepada-Nya?" Rosulillah Shalallahu'alaihi wa sallam pun menjawab: -"Ikatlah dulu untamu itu lalu kemudian engkau bertawakal !" (HR. At-tirmidzi no.2517 hadits ini hasan) Kita bisa melakukan pencegahan dengan memakai masker, menjaga stamina tubuh dan atau mengurung diri didalam rumah. Maka perlu kita ketahui bahwa Virus Corona merupakan virus yang aktif penyebarannya. Tapi sebagai umat islam, kita tidak boleh menyandarkan sesuatu kepada sebab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Mengandalkan (terlalu memperhatikan) sebab atau usaha itu menodai kemurnian tauhid. Tidak percaya bahwa sebab adalah sebab adalah tindakan merusak akal sehat. Tidak mau melakukan usaha atau sebab adalah celaan terhadap syariat (yang memerintahkannya). Hamba berkewajiban menjadikan hatinya bersandar kepada Allah, bukan bersandar kepada usaha semata. Allahlah yang memudahkannya untuk melakukan sebab yang akan mengantarkannya kepada kebaikan di dunia dan akherat” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 8/528) Penutup
Orang yang terlalu mengandalkan sebab atau usaha sangat berpotensi untuk stres dan depresi ketika ia tidak bisa mencapai target atau hasil yang ia inginkan, padahal ia sudah giat dan bersusah payah. Seorang yang bertawakal tidak akan stres atau depresi karena ia berbaik sangka kepada Allah. Apapun yang Allah takdirkan adalah yang terbaik bagi seorang hamba. Inilah menakjubkannya urusan seorang muslim sebagaimana dalam hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” (HR. Muslim) Semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar