Jutaan orang bahkan
tidak menyadari. Sesungguhnya galau itu datangnya dari hati yang haus akan
kebenaran. Tidak bisa dipungkiri bahawa kita terkadang lepas kendali atas diri
kita sendiri. Kita yang leha-leha sehingga pandangan kita hanya tentang kesenangan
dunia, we lost we self.
Ada satu keadaan ketika
tiba-tiba hati kita merasa hampa. Kemudian timbul pertanyaan, “Apa sih yang
sebenarnya terjadi? Ini itu kan sudah gue lakuin. Kok berasa kosong.”
Keadaan ini akan
berbahaya jika tidak ditangani dengan baik. Sebagian orang melenceng jalannya
karena tidak menyadari apa yang sebenarnya hati mereka butuhkan. Mereka tidak
tahu bahwa perasaan itu timbul karena sebenarnya Allah sedang merindukan
kehadirannya. Mereka inilah orang-orang yang tersesat, tidak tahu arah pulang.
Tersesatnya mereka
adalah ketika perasaan hampa, galau dan lain sebagainya yang mereka rasakan.
Mereka justeru pergi mencari jalan kesenangan lain. Berdugem, nge-drugs,
mabuk-mabukan, membuang-buang waktu dengan hal yang tidak berguna dan hal
lainnya yang membuat mereka semakin tenggelam. Hingga mungkin beberapa dari
mereka bahkan ada yang mengakhiri hidupnya sendiri karena perasaan depresi
akibat kesenangan yang mereka cari tidak mereka dapati.
Mereka yang mengalami
hal ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan atas agama mereka.
Hal-hal ini wajar terjadi pada orang-orang kafir, tentunya. Akan tetapi tidak
sedikit umat Islam pun juga turut menjadi bagian dari mereka. Mereka ini tentu
jauh sejauh-jauhnya dari mengenal Sang Maha pencipta yakni Allah Ta’ala.
Sebagaimana yang diterangkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 72-73. Mereka tidak tahu
arah pulang ke hadapan-Nya.
Oleh karena itu,
kenalilah keadaan hatimu ketika Allah merindukanmu. Beberapa hal yang mungkin
terjadi pada kita adalah :
·
Ketika hati merasa tidak
nyaman tanpa sebab
·
Apa yang kita lakukan
selalu salah di pandangan manusia
·
Sedih entah karena apa
·
Diacuhkan dunia
·
Merasa Useless,
(tidak berguna -bahasa anak jaksel)
·
Tertimpa musibah
·
Dan lain sebagainya
Semua ini semata-mata karena Allah merindukan
kita.
Datanglah kepada-Nya.
Bercerita lah sesuka hatimu, katakan yang ingin kamu katakan. Allah… Allah itu
Maha mendengar juga Maha Mengetahui. Ungkapkan, menangislah jika perlu. Menjadi
cengeng di hadapan Rabb-mu bukanlah suatu kehinaan. Allah menjanjikan
syafaat-Nya untuk mata-mata yang menangis dikala bersendirian mengingat Allah,
mengingat dosa dan mengingat-ingat nikmat Nya. Allah cinta akan hal itu.
Sebagaimana hadis yang Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam sabda kan :
Dari Abu Hurairah
Radhiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam
naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Di
antaranya yakni golongan ke-7 seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam
keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” ulasan hadits [1]
Menangislah, lemahlah di
hadapan Yang Maha perkasa. Lemahlah di hadapan Allah Yang Maha besar. Lemahlah
selemah-lemahnya kamu bisa. Jangan jadikan dirimu seperti Iblis yang merasa
kuat dan sombong. Kamu sekalian adalah anak-cucu Adam yang melakukan kesalahan
dan bertaubat dari kesalahan itu. Hingga nanti Allah menyuruh kamu pulang
ketempat asalmu, tempat asal nenek dan kakekmu. Surga yang Allah janjikan.
Begitulah Allah
merindukan hamba Nya. Segeralah jemput panggilan itu. Lalu bayangkan ketika kita
tersungkur sujud di atas sajadah. Ketika kita duduk bersila memegang Al-Quran.
Atau ketika wajah kita tertunduk dan tangan terangkat berdoa dibarengi rasa
malu untuk menatap kiblat. Dan disaat itu hati kita mendengar Allah berkata
dengan teramat senang, “Hambaku kembali… Hambaku kembali… Hambaku kembali!”
ulasan hadits [2]
Kemudian jawab oleh
kita, “Ya Rabb… Aku kembali, Aku kembali. Perkenankan taubatku”

0 komentar:
Posting Komentar