Senin, 07 Juni 2021

Sharing is Caring dalam Islam

 Bissmillah,

Biar jadi pelajaran, yah.

Simple sih tapi bisa diterapin dalam bermedia sosial. Khususnya generasi kedepannya nanti,

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan kita kemudahan dalam menyebarkan informasi. Hanya melalui quota internet maka seluruh akses informasi di dunia ini bisa kita dapat dan sebar.

Tapi jauh sebelum adanya teknologi bernama HP dan internet. Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam  telah mengajarkan kita dalam hal menerima berita dan menyebarkannya. Itulah diantara luarbiasanya agama ini.

Di antaranya adalah sebagaimana hadits dari sahabat Abu Hurairah Radiallahu’anhu, bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita/informasi) yang dia dengar” (HR. Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i)

Maka seseorang yang menyebarkan berita bohong terkena juga hukum yang sama sebagaimana yang membuat pertama kali. Oleh karena itu kita perlu mengecek keabsahan berita yang kita terima sebelum menyebarkannya kepada khalayak ramai. Terlebih jika kita di beri tanggung jawab sebagai seorang dai. Jika sampai suatu kabar berita baik itu ayat atau hadits maka kita cek ke shahihannya juga tafsiran para ulama dan bagaimana para ulama mengambil kesimpulan dari ayat dan hadits tersebut. Sehingga yang sampai kepada jamaah adalah bernar sesuai dengan apa yang Allah dan Rosul-Nya inginkan.

Sebagaimana yang terjadi kepada Rosulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tatkala Jibril Alaihissalam mengajarkan Al’qur’an akan tetapi Rosulullah tergesa-gesa untuk menghafalkannya, sehingga bacaan Jibril berbenturan saling susul menyusul dengan bacaan Rosulullah, Maka Allah tegur Rosul-Nya dengan *Surah Al-Qiyamah ayat 16-19*. Oleh karena itu Allah memerintahkan Rosul-Nya untuk menyimak dahulu sampai Jibril selesai lalu kemudian Rosul ikuti.

Wallahu’alam,

Begitulah sejatinya Akhlak seorang muslim dalam menyikapi sebuah informasi yang mereka dengar.

Satu kisah lagi dari Mu’adz bin Jabal radiallahu’anhu,

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, Muadz mendapat pertanyaan dari Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam,

“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba dan apa hak hamba yang wajib dipenuhi oleh Allah?”

Muadz menjawab, “Allahu wa Rosuluhu ‘alam”

Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah hanya kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. Adapun hak hamba yang wajib dipenuhi oleh Allah adalah Allah tidak akan mengadzab mereka yang tidak berbuat syirik kepada-Nya.”

Lalu Mu’adz berkata, “Wahay Rosulullah, bagaimana kalau aku mengabarkan berita gembira ini kepada banyak orang?”

Rosulullah menjawab, “Jangan, nanti mereka bisa bersandar.”

(HR. Bukhrai Muslim)

Meninjau hadits ini, kemudian kita bertanya, kenapa hadits ini bisa diketahui, apa Mu’adz melanggar perintah Rosulullah untuk tidak boleh menyampaikan.

Tentu tidak, Mu’adz menyampaikan hadits ini adalah tatkala beliau rodiallahu’anhu hendak wafat. Dalam masa kritisnya beliau memiliki beban atas hadits yang selama ini ia simpan semasa hidupnya. Ingat beliau menyimpan informasi ini selama hidupnya sebab atas pertimbangan tidak tergesa-gesa. Ahirnya Mu’adz menyampaikannya kepada para sahabat yang menyaksikannya disana dan beliau berkata. Aku takut mati dalam keadaan menyembunyikan ilmu terlebih ilmu itu adalah datangnya dari Rosulullah. Maka Mu’adz kemudian menyampaikan hadits ini. Wallahu’alam

Begitulah sejatinya sikap kita tatkala menyampaikan sebuah informasi. Karena tidak semua manusia bisa mencerna informasi yang kita sebar, meskipun itu informasi yang sah dan benar. Daya tangkap akal manusia terbatas dalam menyikapi sesuatu. Bisa jadi dia menerima bisa jadi tidak, bisa jadi dia faham bisa jadi dia bingung dan makin tersesat.

0 komentar:

Posting Komentar