Bissmillah,
Biar jadi pelajaran, yah.
Simple sih tapi bisa diterapin dalam bermedia sosial. Khususnya generasi kedepannya nanti,
Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan kita kemudahan
dalam menyebarkan informasi. Hanya melalui quota internet maka seluruh akses
informasi di dunia ini bisa kita dapat dan sebar.
Tapi jauh sebelum adanya teknologi bernama HP dan internet.
Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam telah mengajarkan kita dalam hal menerima
berita dan menyebarkannya. Itulah diantara luarbiasanya agama ini.
Di antaranya adalah sebagaimana hadits dari sahabat Abu
Hurairah Radiallahu’anhu, bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta
(pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita/informasi) yang dia dengar”
(HR. Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i)
Maka seseorang yang menyebarkan berita bohong terkena juga
hukum yang sama sebagaimana yang membuat pertama kali. Oleh karena itu kita
perlu mengecek keabsahan berita yang kita terima sebelum menyebarkannya kepada
khalayak ramai. Terlebih jika kita di beri tanggung jawab sebagai seorang dai.
Jika sampai suatu kabar berita baik itu ayat atau hadits maka kita cek ke
shahihannya juga tafsiran para ulama dan bagaimana para ulama mengambil
kesimpulan dari ayat dan hadits tersebut. Sehingga yang sampai kepada jamaah
adalah bernar sesuai dengan apa yang Allah dan Rosul-Nya inginkan.
Sebagaimana yang terjadi kepada Rosulullah Shallallahu’alaihi
wa sallam tatkala Jibril Alaihissalam mengajarkan Al’qur’an akan tetapi
Rosulullah tergesa-gesa untuk menghafalkannya, sehingga bacaan Jibril
berbenturan saling susul menyusul dengan bacaan Rosulullah, Maka Allah tegur
Rosul-Nya dengan *Surah Al-Qiyamah ayat 16-19*. Oleh karena itu Allah
memerintahkan Rosul-Nya untuk menyimak dahulu sampai Jibril selesai lalu
kemudian Rosul ikuti.
Wallahu’alam,
Begitulah sejatinya Akhlak seorang muslim dalam menyikapi
sebuah informasi yang mereka dengar.
Satu kisah lagi dari Mu’adz bin Jabal radiallahu’anhu,
Suatu ketika dalam sebuah perjalanan, Muadz mendapat
pertanyaan dari Rosulullah Shalallahu’alaihi wa sallam,
“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apa hak Allah yang wajib
dipenuhi oleh para hamba dan apa hak hamba yang wajib dipenuhi oleh Allah?”
Muadz menjawab, “Allahu wa Rosuluhu ‘alam”
Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para
hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah hanya kepada-Nya saja dan tidak
berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. Adapun hak hamba yang wajib dipenuhi oleh
Allah adalah Allah tidak akan mengadzab mereka yang tidak berbuat syirik
kepada-Nya.”
Lalu Mu’adz berkata, “Wahay Rosulullah, bagaimana kalau aku
mengabarkan berita gembira ini kepada banyak orang?”
Rosulullah menjawab, “Jangan, nanti mereka bisa bersandar.”
(HR. Bukhrai Muslim)
Meninjau hadits ini, kemudian kita bertanya, kenapa hadits
ini bisa diketahui, apa Mu’adz melanggar perintah Rosulullah untuk tidak boleh
menyampaikan.
Tentu tidak, Mu’adz menyampaikan hadits ini adalah tatkala
beliau rodiallahu’anhu hendak wafat. Dalam masa kritisnya beliau memiliki beban
atas hadits yang selama ini ia simpan semasa hidupnya. Ingat beliau menyimpan
informasi ini selama hidupnya sebab atas pertimbangan tidak tergesa-gesa. Ahirnya
Mu’adz menyampaikannya kepada para sahabat yang menyaksikannya disana dan
beliau berkata. Aku takut mati dalam keadaan menyembunyikan ilmu terlebih ilmu
itu adalah datangnya dari Rosulullah. Maka Mu’adz kemudian menyampaikan hadits
ini. Wallahu’alam
Begitulah sejatinya sikap kita tatkala menyampaikan sebuah
informasi. Karena tidak semua manusia bisa mencerna informasi yang kita sebar,
meskipun itu informasi yang sah dan benar. Daya tangkap akal manusia terbatas
dalam menyikapi sesuatu. Bisa jadi dia menerima bisa jadi tidak, bisa jadi dia
faham bisa jadi dia bingung dan makin tersesat.

0 komentar:
Posting Komentar