Ketika aku pingin membahas tentang rasa takut, aku terfikir akan super hero. Bagiku super hero yang terlintas adalah para Nabi dan Rosul, gakan ada manusia yang lebih hebat dari mereka semua.
Lalu apa yang menjadikan mereka special di hadapan Allah Robbul 'Alamin dan kehebatan mereka tertulis rapih di dalam sejarah kehidupan manusia.
Ternyata ada pada letak ibadah mereka kepada Allah. Dan salah satu bentuk ibadah hebat mereka dibangun atas rasa takut salah satunya.
Dan aku pingin membahas semua hal mencakup ibadah itu sendiri. Sebenarnya ada tiga pilar dalam beribadah yaitu rasa cinta, rasa takut, dan juga rasa harap.
Jika semua hal ini terkumpul pada seorang hamba maka ini akan menjadikan ibadahnya sempurna, insya Allah.
Rasa cinta (Mahabbah)
Seseorang akan melakukan apapun demi sesuatu yang dia cintai. Bayangkan ketika kita menanamkan kecintaan dihati kita hanya kepada Allah. Bukan perkara mustahil ketika ada satu perintah dan larangan lantas mulut kita sepontan mengatakan, sami'naa wa ato'naa (kami dengar dan kami taat). Sebab tidaklah mungkin seseorang yang jatuh cinta akan menghianati kecintaannya.
dan berdoalah agar Allah senantiasa memberikan rasa cinta di hati kita kepada-Nya.
Rasa takut (khauf)
Seseorang yang beribadah dibarengi rasa takut itu wajar dan harus. Sebab itulah mengapa Allah mengabarkan betapa perihnya siksaan api neraka, betapa mengerikannya adzab Allah pada kaum sebelum kita. Sebab Allah ingin kita menghadirkan rasa khauf kepada hal tersebut. Jika kita melanggar maka kita akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Begitulah cara kerjanya rasa takut dalam beribadah. Jangan sampai kita termakan oleh sebagian perkataan manusia yang mengatakan bahwa, "Lo taat karena apa? Takut siksaan, kan. Taatlah karena lo iklhlas gak takut siksaan dan gak berharap surga. Taatlah karena Allah."
That's stupid think.
Keikhlasan di sana literally bukan meniadakan rasa takut dan meniadakan rasa harapan. Rasa takut itu perlu sebagaimana aku bilang. Superhero memunculkan kekuatanya saat rasa takut dia dipacu. Begitupun kaum muslimin, rasa takut atas kehilangan ridho Allah saja itu seharusnya sudah cukup untuk memacu kita agar senantiasa beribadah. Bagaimana jika rasa takut itu atas siksaan Allah, seharusnya kita jauh lebih takut lagi jika meninggalkan ibadah dan melalukan larangan-Nya.
Rasa harap (Rodja)
Seseoranh beribadah juga harus dibarengi dengan rasa penuh harap. Jika Allah menjanjikan surga maka kita perlu berharap atas janji Allah tersebut. Sebagaimana anak kecil ketika diiming-imingi orang tuanya mainan mahal apabila dia mampu ranking satu dikelas. Begitupun kita patut berharap seperti anak kecil tersebut kepada setiap janji Allah.
Allah, loh yang berjanji dan Allah gak akan mengingkari janji. Maka setiap beribadah, baik solat, sedekah, berdoa dan bahkan menikah ~cie yang sudah menikah, selalu Allah janjikan sesuatu. Sehingga ketika kita menjalankan ibadah tersebut kita boleh berharap atas balasan dari-Nya sesuai apa yang Allah janjikan. Karena memang seperti itu janji-janji Allah tersebut Allah buat, untuk menumbuhkan harapan-harapan baik di hati kaum muslimin.
Ketika Allah berfirman, "Ud'unii astajiblakum" berdoalah kepada-Ku maka akan Aku kabulkan doa kalian. Berdoalah terus dengan penuh harap sampai Allah kabulkan atau Allah ganti dengan semisalnya.
Di sana ada perintah berdoa dari Allah. Maka itu jatohnya adalah perintah beribadah dan ada janji Allah yaitu pengabulan doa kamu maka kamu patut berharap. Aneh, kan, kalau kamu berdoa tapi tidak ada rasa berharap hehe
Maka tiga hal itu perlu kamu tanamkan dan praktekan dalam beribadah. Inget apa?
Mahabbah - Rasa cinta
Khauf - Rasa takut
Rodja - Rasa harap
Bagaimana kalau salah satunya gak ada?
Jika salah satunya gak ada maka ibadah akan terasa timpang dan manjatuhkan kita kedalam beberapa golongan manusia. Jika cinta buta berlebihan kita akan terjerumus kepada ghuluw, khawarij dan terorisme. Selengkapnya kita bahas di bawah ini,
Rasa cinta yang salah
Mencintai Allah melebihi segala sesuatu itu harus. Aku cuma igin menitik beratkan kecintaan yang berlebih pada agama ini yang menjadikan manusia itu salah dalam mempertimbangkan keilmuannya.
Banyak dari kita tahu bahwa beberapa orang terjerumus kepada tindakan keji mengatas namakan agama. Lalu mengapa?
Sebab mereka ghuluw dan berlebih-lebihan sehingga cinta buta. Takjarang mereka menghalalkan darah manusia yang bersebrangan pemikirannya dengan mereka. Itulah mengapa cinta itu perlu tapi harus dibangun berdasarkan keilmuan yang benar sesuai Alquran dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang lurus.
Tidaklah aku temui pemahaman yang lurus melaikan pemahaman para Sahabat dan generasi emas setelahnya. Maka ikutilah mereka jangan mengiuti hawa nafsu atau ketenaran tokoh-tokoh tertentu. Kita perlu menimbang agar rasa cinta di hati kita dalam beribadah ini tersalurkan kepada peribadahan yang benar. Ikutilah pemahaman para salafushalih yang terbukti keimanannya dan keilmuannya.
Jika Rasa cinta kurang
Inimah tahu, lah, yah.
Dampaknya pasti akan menjadikan kita berbuat kesyirikan, malas beribadah dan condong kepada kemunafikan nantinya. Naudzubillah.
Bayangkan saja jika kamu tidak begitu mencintai maka kamu akan dengan mudah berselingkuh. Begitupun kecintaan kita kepada Allah, jika kurang maka dengan faktor apapun kita bisa terjerumus kepada kesyirikan.
Sedikit saja kita temui sesuatu yang lebih menjanjikan maka kita akan langsung menabrak segala larangan Allah, dilarang melakukan riba, dengan mudah kita bilang, "Kalau gak riba kita gak punya!". Atau jika kita mendapatkan kesulitan maka kita akan mengambil jalan lebih singkat dengan mensyirikan Allah, pergi ke dukun atau ke tempat pesugihan, misal.
Hal-hal tersebut dilakukan karena kurangnya kecintaan kita ke pada Allah, wallahu'alam.
Rasa Takut berlebihan
Huh, rasa takut yang berlebihan pun ternyata jadi masalah, loh.
Pernah gak kalian berbuat kesalahan terus gak mau pulang karena takut digebukin bapak kalian???
Nah, ketebak, kan!?
Jika rasa takut berlebihan maka itu juga gak baik. Ketika kita berbuat dosa, maksiat, kita takut setengah mati sama siksaan Allah. Abis itu kita berfikir, "Kayaknya gak ada lagi pintu maaf buat gw. Allah pasti gak akan maafin gw." Pernah?
Alih-alih bertaubat ehhh kita kehasut sama setan. Kita malah terus-terusan bermaksiat. Terus bilang kalau, "Gw udah terlanjur kotor."
See???
Ketakutan yang berlebihan membawa kalian kepada jurang yang dasarnya gak berkesudahan. Hati-hati, yah, inget, selalu ada harapan, kok. Hadirkan rasa harap ketika kita ada di posisi itu.
Harapan kalau Allah itu pasti bukain pintu maaf buat kalian. Makanya aku bilang kalau ketiga pilar ini penting karena saling menguatkan satu sama lain.
Jika Rasa Takut sedikit
Yah, kalau ini lagi-lagi bisa menjatuhkan kita kepada kemunafikan.
Jika rasa takut kita kepada Allah sedikit maka kita akan bermudah-mudah dalam berbuat dosa. Menyepelekan larangan Allah dan menjadikan kita munafik atau malah jatuh kedalam dosa syirik.
Rasa Harap berlebihan
Ini lanjutannya dari rasa takut yang sedikit. Kalau rasa harap berlebihan maka kita akan berfikir, "Ah kalau kita buat dosa kita akan minta maaf sama Allah dan bertaubat. Allah pasti ampunin kita dengan harapan besar pasti Allah akan mengampuni kita."
Jatohnya kita menyepelekan Allah. Kita lupa bahwa Allah juga bisa nyuekin kita dengan terus-menerus membiarkan kita berkubang dalam dosa tersebut. Sehingga kita keasyikan dan malah lupa bertaubat. Itu bukan hal yang mustahil Allah lakuin, itu disebut istidraj.
Hati-hati dengan istidraj ini.
Bayangkan seoarang ayah melarang anaknya main pasir, "Nak jangan main pasir nanti ada beling!" Sekali, dua kali anaknya tetap main pasir. Ketiga kali ibunya nanya, "Yah kok gak melarang anak kita main pasir?"
"Ayah sudah bosan, Mah. Masa bodo, biarkan dia tertusuk beling!"
Nah, bagaimana jika Allah memperlakukan kita sebagaimana tadi.
Sekali kita berbuat dosa, Allah beri kita hidayah ~Baik melalui orang tua, ustadz atau bahkan nasihat teman. Tapi kita teruuuss aja berdosa. Maka istidraj jatuh kepada kita.
Allah biarkan kita, Allah cuekin kita dan Allah siapkan tempat tinggal bagi kita di neraka. Kan ngeriih.
Makanya, jangan terlalu berharap kalau kita akan baik-baik saja. Tanamkan rasa takut atas ancaman Allah dalam setiap perkara.
Jika rasa berharap kurang
Sama, ini akan menjadikan kita juga jauh dari Allah.
"Aku doa gak pernah dikabulkan. Aku ibadah gak dapet apa-apa!"
Kemudian kalian kehilangan rasa harap kalian atas kuasa Allah. Ahirnya kalian memutuskan pergi dari-Nya dan bermaksiat. Bahkan tak jarang sebagian kita melepas agamanya. Karena merasa ada hal yang lebih menjanjikan diluar sana.
Gimana ngerihkan?
Tentunya ketika kita melepas agama kita maka kita akan jauh dari pertolongan Allah ar-Rahman. Teruslah berharap dan teruslah berprasangka baik kepada Allah. Karena sejatinya, "Takdir Allah itu berdasarkan perasangkaan hamba-Nya terhadap-Nya. Maka berperasangka baiklah terhadap setiap ketetapan Allah terhadapmu."
Penutup
Perhatikanlah ketiga pilar tersebut dan tanamkan betul-betul berdasarkan porsinya masing-masing. Itulah mengapa pilar-pilar itu perlu tertanam dengan baik. Porsinya harus sama dalam setiap ibadah kita kepada Allah azza wa jalla. Insya Allah jika pilar itu terbangun dengan benar maka akan benar juga setiap langkah yang kita ambil. Bi idznillah.

0 komentar:
Posting Komentar