Minggu, 31 Oktober 2021

Dunia ini Isinya adalah Ujian

Sering sekali kita mengeluh tentang keadaan hidup kita. Banyak sekali cobaan hidup menerpa, bentuknya bisa beragam. Ada yang diuji dengan harta, anak, istri, suami, kedudukan dan bahkan diuji dengan tampang -ada. 

Alangkah beratnya hidup ini bukan?

Jawabannya bisa 'Ya' dan bisa juga 'Tidak', tergantung dari perseperktif mana kita menilai. Apakah dengan ketakwaan dan husnudzon kepada Allah ataukah dengan kukufuran dan kesu'udzonan kita kepada takdir Allah, semua itu kembali ke diri kita masing-masing. Wallahu'alam

Banyak sekali jika harus kuuraikan macam-macam masalah dan juga keturunannya di sini. Akan tetapi setidaknya dengan tidak menguraikan masalah-masalah tersebut kita jadi terhindar dari yang namanya "ngadu nasib" di sosmed -hehe.

Pokok yang perlu kita ketahui adalah sebatas, kehidupan ini memang isinya cobaan semua. Singkatnya seperti itu. Bahkan jikapun ada seseorang yang terlihat selalu menampakkan nikmat dari Allah Azza wa jalla. Mungkin saja kenikmatan itu adalah bentuk ujian juga buat dirinya, bila dia mau merenung untuk berfikir. Sekiranya dia tidak menyadarinya dan kenikmatan itu membuatnya lalai dari mengingat Allah, maka celakalah dia. Sungguh, bukankah kenikmatan itu adalah termasuk ujian juga?

Jadiin ga nih kita ngadu nasib di sini? Jangan yah hehe

Allah Ta'ala berfirman,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?." (QS.Al-'Ankabut : 2)

Ini sudah merupakan sunnatullah, bahwa setiap kita pasti di tempatkan pada ujian yang berbeda. Ujian untuk dia berbeda dengan ujian yang kita terima, pun sebaliknya, ujian yang kita terima belum tentu sama dengan apa yang mereka terima. Masing-masing kita memiliki porsinya sesuai dengan tingkat keimanan seseorang tersebut. Semakin beriman maka semakin besar cobaan yang dia terima. Tapi jangan khawatir sebab ini semua tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai bentuk ujian yang dapat menaikan derajat kita di sisi Allahu azza wa jalla.

Sebagai seorang muslim juga kita tidak perlu khawatir sebab setiap perkara yang menimpa kita akan bernilai pahala jika kita menyandarkannya kepada Allah subhanahu wa ta'la  -Artinya jangan bersandar di pundak aku.

Seyogyanya kita sebagai seorang muslim menyandarkan segala keresahan dan segala beban kehidupan ini kepada yang memiliki kehidupan itu sendiri, yakni Allah robbul'alamin. Sehinnga dengan langkah tersebut kita berharap agar Allah menanamkan rasa optimis dan ketenangan jiwa. Sebab kita memiliki sandaran yang kuat dan keimanan atas takdir yang Allah timpakan kepada kita. Puncaknya adalah keyakinan kita kepada setiap takdir Allah yang baik maupun yang buruk bahwa setiap apa yang Allah takdirkan adalah merupakan hal yang terbaik bagi diri kita. 

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya DIa akan memberi petunjuk kepada hatinya, Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS.At-Taghabun :11)

Aku mengerti bahwa setiap kita tidak bisa dengan mudah memfonis atau memberikn suport berupa nasihat-nasihat agama dengan mudahnya. Seolah-olah apa yang kalian rasakan itu bisa semudah itu dapat diselesaikan. Aku sering menengar kok ucapan, "Alah lo mah ngomong enak. Coba kalau lo ada diposisi gue?" itu sudah lumrah bahkan dialami juga oleh para Ustadz yang berdakwah.

Padahal seperti yang aku katakan tadi bawha kita semua punya porsi cobaan. Akan tetapi hal yang paling baik saat tidak ada lagi tempat memohon pertolongan bukankah hanya kembali kepada Allah saja?

Dianjurkan pula untuk kita tatkala terkena musibah agar selalu bersabar. 

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan,

الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ ، فَإِذَا ذَهَبَ الصَّبْرُ ذَهَبَ الإِيمَانُ

“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” 

(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ [3535], lihat Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah). Meskipun hadits ini secara sanad atsar dinilai lemah akan tetapi secara makna benar, selengkapnya.

Kesabaran bagi seorang muslim juga banyak bentuknya, umumnya sabar tatkala tertimpa musibah dan secara khusus pun kita harus bersabar tatkala melalukan ketaatan. Sebab berbuat ketaatan pun merupakan perkara yang berat karena kita selalu berhadapan dengan syaiton -musuh yang tidak terlihat. 

Oleh karena itu tatkala kita tertimpa musibah maka sebaik-baik jalan adalah kembali kepada Allah Ta'ala, memohon pertolongannya sebab ada banyak sekali keutamaan yang kita dapatkan nantinya. Pahala bersabar dan pahala beribadah. Juga hal penting yang perlu kita lakukan adala berhusnudzon kepada setiap takdirAllah. 

Allah Subhanahu wa ta'ala dalam hadits kudsi berkata, أنا عند ظنّ عبدي بي "Sesungghnya perlakuan-Ku kepada hamba-Ku sesuai perasangkaannya kepada-Ku." (HR. Bukhari no.7066 dan Muslim no.2675)

Pun dalam berhusnudzon kita harus melakukannya hingga ajal menjemput. Dalam hal ini aku katakan bahwa husnudzo kepada Allah berarti kita harus melakukannya seumur hidup kita. Meskipun kita selalu tertimpa cobaan yang berat kita tetap harus menjaga perasangkaan baik kepada takdir Allah azza wa jalla tersebut. 

"Jaganlah salah seorang dari kalian mati kecuai dia berprasangka baik kepada Allah." (HR. Muslim 2877)

Sebab terkadang datangnya pertolongan Allah itu justru pada saat-saat genting. Sebagaimana kisah-kisah orang solih di bawah ini. 

Sunnatullah akan berlaku jika kita sudah berada di puncak-puncak kesulitan. Sehingga dalam keadaan tertentu kita harus terus berhusnudzon sampai mendapatkan pertolonga Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang-orang solih terdahulu membuktikan perkara tersebut. Sampai benar-benar terdesak, keyakinan mereka terhadap pertolongan Allah tidak pudar. 

Sebagaimana ibunda ismail yakni Siti Hajar yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam, singkatnya Siti Hajar kehabisan persediaan dan dia berusaha terus bolak-balik dari Sofa ke Marwah, Sofa ke Marwah mencari air dan pertolongan (bentuk tawakal atau usaha, tidak hanya diam tetapi tetap berusaha) dengan tetap berprasangka baik kepada pertolongan Allah. Singkatnya Jibril datang dan Ismail kecil menghentakan kakinya ke tanah lalu keluarlah sumber air zamzam. Begitulah pertolongan Allah datang tatkala di masa-masa terdesak asalkan kita tetap husnudzon dan dalam ketakwaan (berusaha).

Sama halnya seperti kisah Nabi Musa Alaihissalam tatkala terdesak antara laut merah dan pasukan Fit’aun. Sama halnya tatkala Nabi Ya’kub Alaihissalam kehilagan Yusuf Alihissalam dan Binjamin akan tetapi Beliau tetap berhusnudzon kepada Allah bahwa Allah akan mengembalikan anak-anaknya kelak ketika waktunya tepat.

Sepeti Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam tatkala di kejar oleh orang kafir dan bersembunyi di sebuah gua. Lalu Rosulullah berkata kepada Abu bakar, “Innallaha ma’ana”. Husnudzon dan Allah palingkan orang-orang yang mengejar mereka sehingga mereka tidak melihat ke dalam gua.

Inilah husnudzon dalam kondisi-kondisi terdesak.

Ini semua adalah amalan hati. Sulit memang kecuali kita memiliki keyakinan besar bahwa,

-Luasnya rahmat Allah.
-Yakin bahwa Allah mengetahui kondisi kita.
-Yakin terhadap kesempurnaan kekuasaan Allah.

Begitulah,
Ketika kita dirundung penderitaan bukan berarti kita luput dari pengawasan Allah, melaikan Allah menempatkan kita kepada cobaan yang Allah yakin kita dapat melewatinya.

---------------------------------------
Barakallahufikum,
Hilmanhar @temenmengaji
1 November 2021 | 25 Robiul Awal 1443 H





0 komentar:

Posting Komentar