Minggu, 16 Januari 2022

Antara Sesajen dan Agama di Nusantara

Ramai soal sesajen kemarin. Sesajen sendiri merupakan persembahan kepada sesuatu yang dianggap agung oleh sebagian orang. Agama di Nusantara ini identik dengan sesuatu yang mistis. sebab agama atau kepercayaan masyarakat mayoritas memang dibangun di atas itu semua.

Sejarah mengatakan bahwa masyarakat Nusantara diwarnai agama ketika datangnya kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan kemudian Islam. Ketiganya merupakan agama tertua yang membentuk masyarakat Nusantara pada saat itu.


Tapi kenapa agama-agama tersebut berbeda dari agama induk mereka.

Seperti Hindu Budha di India dan Islam di negeri Arab? Kok beda?


Jawabannya adalah karena sinkronisasi atau percampur bauran agama itu sendiri dengan kebudayaan atau kepercayaan lokal (Mistisisme).


Pada dasarnya konsep semua agama di muka bumi ini hanya mengkultuskan satu Dzat yang Maha besar atau yang Maha Berkuasa atas segalanya -Meski dalam berbagai macam penafsiran. Konsep ini sebenarnya sebagai bukti juga bahwa sebenarnya Allah telah menitipkan beberapa manusia sebagai utusan Allah yang biasa kita sebut dengan Nabi dan Rasul. 


Apakah saya liberal karena menyamakan semua agama?

Tunggu temen-temen, disini saya akan menjelaskan bahwa apa yang saya maksudkan bukanlah menyamakan semua agama itu sama dan mereka berhak atas kesyirikan dan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan tersebut. Tidak.


Sekali lagi di sini justru saya akan mengatakan bahwa apa yang kalian tanyakan baik secara sadar maupun tidak kalian sadari, yaitu pertanyaan, “Kenapa Allah menciptakan banyak manusia dengan banyak agama, kenapa ndak Allah takdirkan saja semua manusia beragama islam?”


Di sini adalah jawabannya, aku gak mengambil contoh kasus pada negara lain. Tapi pada tempat tinggalku sendiri yaitu di Nusantara ini. Bahwa even Allah takdirkan semua manusia beragama Islam saja penyimpangan dalam islam itu sendiri terdiri dari banyak sekali dan berkelompok-kelompok. 


Kenapa?


Sebab akal manusia itu sendiri yang menciptakannya. Sehingga agama yang Allah titipkan kepada para Nabi dan Rasul untuk mereka sebarkan ini bisa diterima tapi seiring waktu akhirnya rusak juga oleh penganutnya.


Hindu, Budha, Islam dan agama di manapun pasti memiliki orang-orang yang menyimpang. Tapi kenapa Islam yang terlihat begitu superior dalam menanggapi penyimpangan? Baik itu global maupun secara internal di dalam kubu islam itu sendiri. Sebab islam menginginkan agamanya ini terjaga secara kaffah atau secara menyeluruh sesuai apa yang Nabi dan Rasul terutama Muhammad , ajarkan.


Jauh sebelum Islam, siapa sangka bahwa bisa jadi kalau Hindu dan Budha merupakan agama yang Allah titipkan kepada salah satu Nabi-Nya. Taruhlah itu di India, Budha dan Hindu lahir di sana kemudian seiring berkembangnya ajaran tersebut yang menTauhidkan Allah kemudian terjadilah penyimpangan-penyimpangan. Sebab terjadinya intervensi atau serangan terhadap pemikiran para penganutnya tapi tidak ada perlawanan secara ilmiah. Sehingga kita mengenal Hindu Budha sebagaimana yang kita kenal sekarang. Wallahu’alam.


Kemudian Allah mengutus Rasulullah sebagai penyempurna serta sebagai pemurni ajaran yang sebelum-sebelumnya telah rusak, bukan hanya untuk orang Arab tapi juga untuk seluruh umat (umat di sini termasuk Budha Hindu -ya sudah pasti itu). Untuk memurnikan lagi ajaran mereka sebagaimana Nabi-Nabi yang Allah utus kepada mereka jauh sebelum Rasulullah Muhammad diutus. 


Balik lagi ke Nusantara.

Percampuran atau sinkronisasi agama di Nusantara ini tidak lain dan tidak lebih adalah karena agar masyarakat dapat menerima. Ini sudah sering didengar pasti dari cerita-cerita Wali Songo yang berdakwah dengan wayang atau sebagainya. Kita tidak tahu mana riwayat yang benar, aku up soal ini sebab di Nusantara sampai saat ini adalah masyarakat yang minim soal membaca apa lagi menulis, jadi gak ada riwayat konkrit tentang seperti apa kebenarannya dakwah para Wali Songo atau Ulama-ulama terdahulu. 


Sebagai bukti saja, bahwa kita masih sering mendengar dan mengaitkan dakwah Wali Songo dengan kepercayaan budaya mistisisme. Wali Songo bisa terbang, Wali Songo bisa menghilang dan sebagainya. Sehingga apa yang terjadi kepada umat ini yang mengidolakan dan bersyukur atas kehadiran dakwah mereka. Hasilnya cukup mencengangkan, kuburan-kuburan mereka kini menjadi kuburan yang dikeramatkan dan tidak sedikit yang meminta berkah di atasnya. Ini yang terjadi pada sinkronisasi agama Islam di Nusantara dengan budaya Mistisisme yang kental. 


Sementara kalau pada badan Hinduisme dan Budhisme sendiri sebenarnya ajaran tersebut tidak terlalu jauh. Jika di India Hinduisme mengagungkan sungai Gangga maka di Nusantara ada beberapa aliran air baik sungai dan laut yang mereka keramatkan. Juga ada beberapa pemahaman bahwa tempat tertinggi untuk mengagungkan tuhan adalah tempat yang terbaik. Maka tidak jarang mereka beribadah di gunung-gunung tertentu. Sebab mereka menganggap tempat itu adalah tempat paling dekat dengan Tuhan mereka. Sementara pada Buddha sendiri mereka bersifat individualis artinya hanya memfokuskan ibadah spiritualis atas pribadi-pribadi saja, tidak memerlukan tempat dan tidak memerlukan imam sementara adapun candil (maaf maksud saja candi) itu hanya merupakan perwujudan atau simbol eksistensinya saja dan bukan tempat untuk menyembah Budha. Kemudian entah mengapa kini mereka menyembah dan membuat patung-patung budha padahal sebelumnya tidak. CMIIW.


Sinkronisasi Mistisisme terjadi, 

Adanya pengagungan terhadap sesuatu selain kepada Dzat Tuhan baik kepada laut, gunung dan patung Budha  kemudian menimbulkan sebuah ibadah baru bahwa mereka harus mempersembahkan sesuatu kepada hal tersebut sebagai perwujudan syukur atau tolak bala. Sebab sesuatu yang agung harus diberikan sesembahan. 


Sayangnya hal ini tersinkronisasi pada penganut Islam. Setelah dua agama tersebut eksistensinya mulai tergantikan. Sebagian penganut Hindu Budha di Nusantara yang kemudian menjadi Islam masih sedikit membawa paham tersebut, meski mereka sudah Islam, sampai detik ini. Mereka menganggap bahwa sesuatu selain Allah itu dapat menimbulkan bahaya atau bala. Maka mereka ikut mempersembahkan sesajen kepada gunung-gunung, laut-laut, pohon-pohon, sungai-sungai, batu-batu, kubur-kubur dan masih banyak lagi. Ini merupakan sinkronisasi antara agama dan budaya Mistisisme yang mengakar di Nusantara yang tidak bisa dilepaskan begitu saja.


Jadi cara menendang sesajen dan mempostingnya di media sosial itu merupakan hal bodoh untuk melawan paham budaya Mistisisme yang sudah mengakar ribuan tahun pada masyarakat ini. Bukan mustahil hanya saja terlalu SEMBRONO.


Lalu bagaimana caranya?

Melawan budaya Mistisisme sebenarnya hanya dengan menyampaikan ilmu-ilmu dan ilmu. Sebab Mistisisme terbentuk dari pemikiran orang yang simple tidak mau berpikir panjang dan tidak ilmiah. Ketika sebuah fenomena tidak dapat mereka buktikan secara ilmiah mereka akan mengatakan itu semua dengan hal mistis. Mirisnya mereka tidak melakukan penelitian terlebih dahulu atas hal itu.


Kalau kita menengok orang-orang barat. Ketika ada sebuah rumah yang dikatakan berhantu. Mereka akan membawa semua orang, baik dari kalangan ahli kimia, ahli forensik, ahli fotografi, ahli ibadah mereka, ahli apapun di bidangnya untuk membuktikan bahwa rumah itu angker atau ada hal lain yang membuatnya terlihat angker.  Ketika mereka tidak menemukan bukti ilmiah barulah mereka katakan hal itu diluar nalar atau ada kekuatan yang memang mistis. Minusnya adalah mereka menempatkan ilmu pengetahuan di atas agama. Urutannya, Ilmu pengetahuan, Agama lalu mistisme di urutan terakhir.


Beda dengan di Nusantara,

JIka ada sebuah desas-desus terkait suatu hal. Hal yang pertama mereka cetuskan adalah Mistisisme. Tidak melakukan penelitian dan tidak pula percaya agama. Kedua hal itu ditempatkan di urutan terakhir. Urutannya, Mistisisme, Agama lalu kemudian ilmu di urutan terakhir. Jadi meskipun kita melakukan riset dan menemukan bukti ilmiah terkait hal apapun itu mereka gak akan percaya dan tetap menganggap hal itu mistis. 


Contoh kecil saja,

Pohon bergetah merah. Penelitian ilmiah mengatakan itu adalah getah pohon tapi masyarakat gak percaya. Mereka sebut itu darah penunggu pohon tersebut, buktinya banyak kecelakaan di sekitar situ. Bayangkan, kecelakaan dan pohon apa hubungannya?

Kemudian mereka yang takut akan hal mistis itu semakin terperosok ke dalam jebakan syaiton. Beberapa syaiton memanfaatkan keadaan tersebut dengan cara menampakan diri untuk memperkuat hipotesis mistis masyarakat sehingga menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan (Syirik besar lagi -bukan main kan?!). Pada akhirnya atas ketakutan tersebut masyarakat memutuskan untuk memberikan sesembahan -sesajen- kepada setiap pohon yang besar dan meminta perlindungan kepada POHON -na'udzubillah. 


Adapun umat islam,

Menempatkan Agama dan ilmu pengetahuan beriringan. Lalu dimana hal mistis? Di dada-dada mereka kemudian mereka kembalikan kepada Allah yang Maha mengetahui yang ghaib. 


Jika kita kembali kepada contoh di atas,

Secara mistis, kita paham bahwa ada sosok mistis atau gaib di pohon tersebut. Secara Ilmiah, kita percaya bahwa pohon itu getahnya merah bukan karena darah syaiton penghuninya. Tapi hal gaib atau mistis itu memang ada dan kita wajib mengimaninya. Sebagai umat islam yang baik bukan malah memberikan persembahan tapi mengembalikan semua itu kepada Allah dengan cara memohon perlindungan kepada-Nya. Jika Pun harus celaka karena hal mistis tersebut, sejatinya umat islam hanya meminta perlindungan kepada Allah dan menganggap hal itu adalah bagian dari takdir (Qodo dan Qodar).


Kembali kepada judul sebagai kesimpulan,

Kaitan agama dan sesajen di Nusantara tidak lepas dari pada pemahaman yang membudaya tersebut. Entah itu Hindu Budha dan Islam… sebab adanya sinkronisasi atau percampuran antara agama dan budaya (Mistisisme) tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang ilmiah.


Sehingga tugas kita adalah belajar dan belajar terus. Ketika kita sudah mengetahui kebenaran maka tugas kita adalah menyampaikan secara ilmiah bukan secara anarkis. Sebab yang kita hadapi adalah pemikiran bukan senjata. 


Oh iya,

Kenapa Yahudi dan Nasrani tidak disebut. Sebab kedua golongan tersebut melakukan penyimpangan di bidang yang berbeda. Setahuku di agama mereka tidak ada penyimpangan yang berkaitan dengan sesajen. Makanya aku bahas tiga agama yang saling berkaitan di Nusantara ini saja. 


Wallahu’alam


---------------------------------------
Barakallahufikum,
Hilmanhar @temenmengaji

17 Januari 2022 | 13 Jumadil Akhir 1443 H

0 komentar:

Posting Komentar